Archive for February, 2006

Akibat pemendaman

Saturday, February 11th, 2006

Apa yang terjadi jika sesuatu dipendam sekian lama? Pastilah menjadi suatu hal yang kurang baik. Tumpukan sampah di TPA menjadi busuk dan menyebarkan sumber penyakit . Tumpukan zat karsinogen dalam tubuh menyebabkan penyakit kanker. Tumpukan sembako dalam gudang produksi membuat harga barang menjadi tinggi. Karenanya, bahkan Allah sendiri tidak menyukai semua yang ditimbun.

Itulah kiranya, aku juga sangat menyayangkan orang-orang yang selalu memendam masalahnya. Aku sendiri, selalu berusaha untuk mengungkapkan apa yang menjadi masalahku. Jika tidak  mempunyai sahabat untuk berbagi, maka hal paling minimal adalah menuliskan di dalam buku harian. Karena dengan men-share masalah yang kita miliki, kita telah menyelesaikan 50% dari masalah itu –> Ini  kata-katanya penulis buku yang namanya  lupa ^^

Anyway, kini, aku menyaksikan sendiri seorang temanku, sesama mahasiswa, mengalami apa yang kusebut sakit pikiran. Sebuah ketimpangan yang terjadi karena memiliki masalah yang sedemikian besar dan bertumpuk-tumpuk sejak lama. Saat terjadi stimulus terhadap pikiran atau otaknya, maka terjadilah masalah itu. Stimulus yang berupa pembuka pola pikir, penyadaran, dan lain sebagainya. Seperti suatu tempat penampungan sampah yang akhirnya tidak kuat lagi menampung semua isinya hingga tumpah berceceran kemana-mana.

Bingung rasanya menghadapinya. Aku tidak tahu seberapa berat beban yang menimpanya, tapi aku pernah dengar sebuah ungkapan bijak yang intinya mengatakan bahwa, kau takkan pernah tahu betapa berat beban yang dipikul orang lain karena kau tak pernah menjadi dirinya. Hal yang sama berlaku pula terhadap diri kita sendiri. Artinya, orang lain takkan pernah tahu seberapa berat beban yang menimpa kita. Lalu bagaimana kita mengatasinya, atau setidaknya menghadapinya? Yang kujadikan landasan adalah, kenyataan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal. Dengan alasan itu pula kita adalah makhluk yang lebih baik jika kita saling menolong dan saling mengingatkan. Tindakan yang mulia, namun takkan dapat dilakukan tanpa kesadaran tadi, bahwa kita saling membutuhkan.

Kasus yang menimpa temanku ini bukan yang pertama kali kutemui. Sudah beberapa kali aku menjumpai orang dengan masalah ini. Aku tidak punya solusi langsung layaknya seorang psikolog/ahli kejiwaan yang sangat memahami psikologi manusia, dan aku bukan pula seorang kyai/ahli agama yang sangat memahami sisi spiritual manusia. Namun aku setidaknya memiliki hubungan dengan mereka. Sebagai seorang teman yang siap membantu. Karena menurutku, mereka butuh - apalagi saat ini - pertolongan. Kelakuannya yang mungkin bagi sebagian besar bahkan semua orang dianggap aneh, bisa jadi sangat membahayakannya. Jika terjadi apa-apa dengan mereka dan temanku tadi, aku tak tahu bagaimana jadinya. Karena aku tahu bahwa ada seposisi langkah yang kami lalui bersama, yang justru sedikit banyak menyebabkan apa yang dialami dirinya saat ini. Seposisi langkah yang baik untukku, namun ternyata berakibat sangat fatal untuknya. Karenanyalah, aku merasa aku memiliki sebagian peran dalam bertanggungjawab terhadap apa yang menimpanya.

Akhirnya temanku, dan semua yang membaca ini, kusarankan satu hal saja, sebelum semua terlambat. Selalu curahkan dan tumpahkanlah seluruh isi hati dan pikiranmu, terutama yang mengganjal dan menjadi masalah bagimu. Tuangkan meskipun itu tampak sepele dan kurang berarti. Karena seperti kubilang, segala yang terpendam akan berakibat buruk. Cegahlah, sebelum kamu mendapati suatu hal yang tidak kauinginkan.

Masih idealisme.. yang menjadi beban

Friday, February 10th, 2006

Selang beberapa menit yang lalu, aku menerima email dari adik kelasku (perempuan yang masih duduk di kelas 3 SMA sekarang), yang bilang kalo salah satu temenku yang dulu seangkatan sama aku di SMA, terkena depresi dan malah jadi ngegangguin dia sekarang. Kembali teringat aku tentang idealisme itu. Idealisme mahasiswa yang sangat luar biasa, begitu luar biasanya sehingga malah menjadi beban bagi sebagian mahasiswa.

Sedih dan prihatin. Itulah dua hal yang menimpaku. Temenku yang katanya terkena depresi ini seingatku adalah orang yang biasa-biasa saja dulu. Ceria, suka bercanda dan tertawa, melewati segenap waktu sekolah bersama. Namun ternyata dunia kampus memang sungguh berat. Sangat berat jika dibandingkan sama SMA dulu. Yah, misal aja pola hidup yang jauh berbeda (kayak aku sekarang, kuliah jam 7-9, abis itu kuliah lagi jam 1-3 sore, gimana gak sebel? Kenapa gak sekalian aja, biar siangnya bisa istirahat / maen, ato paginya gak usah ada, biar bisa bangun siang? ^^). Belum lagi ujian-ujiannya, tugas dan praktikumnya, kegiatan organisasi, dan segala masalah laen, yang emang bisa bikin stres kalo kita gak kuat.

Nah segala persoalan ini, ternyata ditambah dengan apa yang kubilang kemaren dan tadi tentang idealisme (ato ideologi? Gak tau yang mana yang bener, pokoknya itulah ^^). Misal aja, banyak pola pikir yang akhirnya membuat kita bingung, apa sih tujuan kita hidup? Apa sih tujuan kita kuliah? Apa buat nyari kerja terus dapet duit banyak terus udah aja gitu? Mau ngapain ikutan organisasi kalo tujuannya gak jelas? Dan seabreg pertanyaan lain yang, kembali memperberat beban kita sebagai mahasiswa.

Mahasiswa juga manusia. Itu sih intinya yang mau kubilang. Segenap harapan memang tergantung pada pundak kami. Beban sekian ratus juta manusia ditimpakan kepada kami. Siapa yang tidak pusing menghadapinya? Berilah kami kesempatan,, kesempatan untuk berpikir,, kesempatan untuk merenung,, apa yang bisa kami lakukan untuk diri kami sendiri dan untuk masyarakat. Saya bilang demikian karena mustahil mengurus masayarakat kalo mengurus diri sendiri pun tak mampu. Memang, kalo dalam istilah keinformatikaan tuh, manusia adalah makhluk yang bisa berpikir dan bertindak paralel. Tapi manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Apalagi kami hanyalah seorang mahasiswa. Apalagi jika ternyata kami sendiri dalam menghadapi ini semua. Keluargaku, teman-temanku sesama mahasiswa, bapak ibu dosen, bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di pemerintahan dan segenap birokrasinya, serta seluruh masyarakat, bantulah kami, bukan malah menekan kami. Hanya itu harapan saya dalam mengatasi permasalahan bangsa ini. Semoga dengan demikian, apa yang kita cita-citakan bersama, yaitu kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia, dapat tercapai.

idealisme dan realita

Thursday, February 9th, 2006

Wah… setelah sekian lama, baru sekarang yah aku nulis di blog ini? Hehe.. maapin ye blog-ku (Kok aneh? ^^)..

Well, sekarang nih mau cerita nih, tentang apa yang terjadi dari beberapa hari lalu ampe kemaren. Kan ceritanya aku ikut acara yang namanya Diklat Aktivis Terpusat Keluarga Mahasiswa ITB 2006 (wuih,, denger namanya aja udah rada merinding,, jangan-jangan pesertanya orang-orang jago ngomong semua! Ngapain dong nanti saya disana?). Well, aku beraniin untuk ikut, karena aku dipercaya untuk jadi wakil himpunanku (HMIF) di acara ini, bareng temenku si Ivan K. Dan benar saja ternyata. Materi yang disampein di acara diklat ini (namanya juga diklat, ya pasti ada transfer materi di dalemnya) tuh superberat untuk ukuran mahasiswa secara umum. Bayangin aja, kami dijejalin ama berbagai realitas tentang ancaman globalisasi ideologi dan universalisasi budaya, politik neo liberalisme termasuk ekonomi Berkeley, utang luar negeri yang wajib ditanggung oleh semua warga yang baru lunas kalo tiap warga nyumbang 8 juta rupiah ke pemerintah (wow!), dan seabrek masalah lain. Dan setelah itu, kami dijejalin juga tentang materi idealisme, ideologi, dan terapannya dalam kemahasiswaan.

Dan DAT pun berlalu. Membawa segenap perubahan ideologi (ato idealisme?) dalam diriku. Rasanya banyak, banyak sekali hal baru yang ingin dan harus kulakukan. Rasanya aku gak pernah lagi benar-benar tertawa dan merasa nyaman, karena setiap detik aku pasti dibayang-bayangin ama kenyataan negatif tentang bangsa ini, tentang masyarakat Indonesia, juga tentang kampus ITB. Suatu hal yang mungkin sedikit menyedihkanku, mengingat aku ikut DAT dengan tujuan utama untuk belajar.

Apa yang kualami? Well, terus Teh Nova, deputi protek KM ITB (yah seniorku lah di kabinet gampangnya) ngasi suatu penjelasan, bahwa ini adalah suatu fenomena umum yang melanda mahasiswa ITB, yang kecewa dan merasa ada yang salah dengan kondisi yang ada baik di kampus maupun di bangsa ini, dan ketika diberi stimulus dari luar, apalagi yang sangat hebat (DAT jauh lebih dari cukup dengan itu), mereka yang notabene memiliki intelektualitas tinggi akan menjadi semacam terdoktrin dengan idealisme yang luar biasa, yang harusnya sangat mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan kampus. Namun akhirnya,, mahasiswa itu semacam goyang karena idealisme yang luar biasa tadi ternyata jauh berbenturan dengan realitas yang juga luar biasa, namun disini luar biasa buruk. Makanya, banyak mahasiswa justru menjadi frustasi, dan akhirnya malah tidak jadi bisa berbuat apa-apa dengan idealisme luar biasa tadi…

Waw,, kenyataan yang sedikit membuatku merinding.. Jadi kalo kusimpulin tuh, aku nih pinter (hehe, narsis^^), terus dapet materi tentang ideologi yang baik sehingga kumasukin dalem pikiran, namun ketika ideologi itu berbenturan ama berbagai kenyataan, jadilah aku murung dst… Wah, makanya nih.. tugasku dari sekarang untuk belajar berealistis. Tidak perlu berteriak-teriak di tengah kampus untuk menuntut perubahan,, tapi aku mungkin bisa berbuat lebih baik dengan bergerak bersama teman-temanku, memulai dari hal-hal yang kecil semacam jujur dalam perkuliahan, dan sebagainya. Segala yang besar dimulai dari yang kecil kan? Semoga Allah meridhoi usahaku.