idealisme dan realita

Wah… setelah sekian lama, baru sekarang yah aku nulis di blog ini? Hehe.. maapin ye blog-ku (Kok aneh? ^^)..

Well, sekarang nih mau cerita nih, tentang apa yang terjadi dari beberapa hari lalu ampe kemaren. Kan ceritanya aku ikut acara yang namanya Diklat Aktivis Terpusat Keluarga Mahasiswa ITB 2006 (wuih,, denger namanya aja udah rada merinding,, jangan-jangan pesertanya orang-orang jago ngomong semua! Ngapain dong nanti saya disana?). Well, aku beraniin untuk ikut, karena aku dipercaya untuk jadi wakil himpunanku (HMIF) di acara ini, bareng temenku si Ivan K. Dan benar saja ternyata. Materi yang disampein di acara diklat ini (namanya juga diklat, ya pasti ada transfer materi di dalemnya) tuh superberat untuk ukuran mahasiswa secara umum. Bayangin aja, kami dijejalin ama berbagai realitas tentang ancaman globalisasi ideologi dan universalisasi budaya, politik neo liberalisme termasuk ekonomi Berkeley, utang luar negeri yang wajib ditanggung oleh semua warga yang baru lunas kalo tiap warga nyumbang 8 juta rupiah ke pemerintah (wow!), dan seabrek masalah lain. Dan setelah itu, kami dijejalin juga tentang materi idealisme, ideologi, dan terapannya dalam kemahasiswaan.

Dan DAT pun berlalu. Membawa segenap perubahan ideologi (ato idealisme?) dalam diriku. Rasanya banyak, banyak sekali hal baru yang ingin dan harus kulakukan. Rasanya aku gak pernah lagi benar-benar tertawa dan merasa nyaman, karena setiap detik aku pasti dibayang-bayangin ama kenyataan negatif tentang bangsa ini, tentang masyarakat Indonesia, juga tentang kampus ITB. Suatu hal yang mungkin sedikit menyedihkanku, mengingat aku ikut DAT dengan tujuan utama untuk belajar.

Apa yang kualami? Well, terus Teh Nova, deputi protek KM ITB (yah seniorku lah di kabinet gampangnya) ngasi suatu penjelasan, bahwa ini adalah suatu fenomena umum yang melanda mahasiswa ITB, yang kecewa dan merasa ada yang salah dengan kondisi yang ada baik di kampus maupun di bangsa ini, dan ketika diberi stimulus dari luar, apalagi yang sangat hebat (DAT jauh lebih dari cukup dengan itu), mereka yang notabene memiliki intelektualitas tinggi akan menjadi semacam terdoktrin dengan idealisme yang luar biasa, yang harusnya sangat mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan kampus. Namun akhirnya,, mahasiswa itu semacam goyang karena idealisme yang luar biasa tadi ternyata jauh berbenturan dengan realitas yang juga luar biasa, namun disini luar biasa buruk. Makanya, banyak mahasiswa justru menjadi frustasi, dan akhirnya malah tidak jadi bisa berbuat apa-apa dengan idealisme luar biasa tadi…

Waw,, kenyataan yang sedikit membuatku merinding.. Jadi kalo kusimpulin tuh, aku nih pinter (hehe, narsis^^), terus dapet materi tentang ideologi yang baik sehingga kumasukin dalem pikiran, namun ketika ideologi itu berbenturan ama berbagai kenyataan, jadilah aku murung dst… Wah, makanya nih.. tugasku dari sekarang untuk belajar berealistis. Tidak perlu berteriak-teriak di tengah kampus untuk menuntut perubahan,, tapi aku mungkin bisa berbuat lebih baik dengan bergerak bersama teman-temanku, memulai dari hal-hal yang kecil semacam jujur dalam perkuliahan, dan sebagainya. Segala yang besar dimulai dari yang kecil kan? Semoga Allah meridhoi usahaku.

3 Responses to “idealisme dan realita”

  1. 'fitraFULL' Says:

    ok deh jrin…
    aq dukung banget ama apa yang kamu tulis dalam deskripsi blogmu.
    setelah aq baca postinganmu ini kok aq jadi serem yah membayangkan bagaimana kalau aq diberi materi kayak gitu trus udah terdoktrin ataupun merasa terbebani tapi gak bisa berbuat apa-apa..
    tapi hal yang menurutku penting untuk kalian/kita perhatikan sebelum kita mengubah dunia ini, indonesia ini menjadi lebih baik tentunya bersatu. dari kelompok yangpaling kecil satukan kekuatan dan satukan visi. tapi adalah sebuah kendala kalau salah seorang dari teman kita ternyata malah terjerumus pada dirinya sendiri. bagaimana bisa bangkit kalau dirinya aja bermasalah. jadi, saya harap jrin…tolong jangan dibantu teman itu. kalau salah satu bagian tubuh yang sakit yang lain ikut sakit….
    wuah… gile…gw udah bisa jadi aktivis nih kalau idealis hahaha….

    ditunggu komentnya yah

  2. Tri Aji Says:

    Assalamu’alaikum Jrin,

    Wah, lagi iseng2 buka frenster eh ada yang baru update blognya, jadi pengen liat.

    Idealisme ya Jrin? Berat banget emang, udah gw rasain sejak 2,5 tahun lalu ampe sekarang. Yang selalu paling berat adalah menghubungkan idealita dengan realita. Dan sayangnya juga idealita seringkali berbeda… Hix3..

    Jrin, tapi gw udah ngeliat banyak idealisme yang udah tertanam dan teraplikasikan di dalam diri lu. Terutama dalam paradigma akademisi dengan mendapatkan nilai sempurna sampe semester 3 ini. Subhanallah… Gw iri.

    Ya, alhamdulillah iri seperti ini yang diperbolehkan oleh islam. Iri terhadap ilmu yang banyak lalu diamalkan, iri terhadap harta yang banyak lalu disedekahkan.

    Oke Jrin, ayo lah kita sama-sama membangun indonesia ini. Walaupun amat berat… Sekali lagi amat berat… :)
    Wassalamu’alaikum…

  3. dende Says:

    jago lo…

    keep rockin man!

Leave a Reply