Masih idealisme.. yang menjadi beban

Selang beberapa menit yang lalu, aku menerima email dari adik kelasku (perempuan yang masih duduk di kelas 3 SMA sekarang), yang bilang kalo salah satu temenku yang dulu seangkatan sama aku di SMA, terkena depresi dan malah jadi ngegangguin dia sekarang. Kembali teringat aku tentang idealisme itu. Idealisme mahasiswa yang sangat luar biasa, begitu luar biasanya sehingga malah menjadi beban bagi sebagian mahasiswa.

Sedih dan prihatin. Itulah dua hal yang menimpaku. Temenku yang katanya terkena depresi ini seingatku adalah orang yang biasa-biasa saja dulu. Ceria, suka bercanda dan tertawa, melewati segenap waktu sekolah bersama. Namun ternyata dunia kampus memang sungguh berat. Sangat berat jika dibandingkan sama SMA dulu. Yah, misal aja pola hidup yang jauh berbeda (kayak aku sekarang, kuliah jam 7-9, abis itu kuliah lagi jam 1-3 sore, gimana gak sebel? Kenapa gak sekalian aja, biar siangnya bisa istirahat / maen, ato paginya gak usah ada, biar bisa bangun siang? ^^). Belum lagi ujian-ujiannya, tugas dan praktikumnya, kegiatan organisasi, dan segala masalah laen, yang emang bisa bikin stres kalo kita gak kuat.

Nah segala persoalan ini, ternyata ditambah dengan apa yang kubilang kemaren dan tadi tentang idealisme (ato ideologi? Gak tau yang mana yang bener, pokoknya itulah ^^). Misal aja, banyak pola pikir yang akhirnya membuat kita bingung, apa sih tujuan kita hidup? Apa sih tujuan kita kuliah? Apa buat nyari kerja terus dapet duit banyak terus udah aja gitu? Mau ngapain ikutan organisasi kalo tujuannya gak jelas? Dan seabreg pertanyaan lain yang, kembali memperberat beban kita sebagai mahasiswa.

Mahasiswa juga manusia. Itu sih intinya yang mau kubilang. Segenap harapan memang tergantung pada pundak kami. Beban sekian ratus juta manusia ditimpakan kepada kami. Siapa yang tidak pusing menghadapinya? Berilah kami kesempatan,, kesempatan untuk berpikir,, kesempatan untuk merenung,, apa yang bisa kami lakukan untuk diri kami sendiri dan untuk masyarakat. Saya bilang demikian karena mustahil mengurus masayarakat kalo mengurus diri sendiri pun tak mampu. Memang, kalo dalam istilah keinformatikaan tuh, manusia adalah makhluk yang bisa berpikir dan bertindak paralel. Tapi manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Apalagi kami hanyalah seorang mahasiswa. Apalagi jika ternyata kami sendiri dalam menghadapi ini semua. Keluargaku, teman-temanku sesama mahasiswa, bapak ibu dosen, bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di pemerintahan dan segenap birokrasinya, serta seluruh masyarakat, bantulah kami, bukan malah menekan kami. Hanya itu harapan saya dalam mengatasi permasalahan bangsa ini. Semoga dengan demikian, apa yang kita cita-citakan bersama, yaitu kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia, dapat tercapai.

2 Responses to “Masih idealisme.. yang menjadi beban”

  1. dende Says:

    i spoke through my writings
    even if no one will gonna read them.

  2. diabetic Says:

    diabetic
    Nice Site.

Leave a Reply