Archive for April, 2006

Terima kasih, guru kelas-0 ku

Monday, April 24th, 2006

Ada yang berbeda pagi ini. Banyak sekali. Sebut dua di antaranya sebagai berikut. Pertama, untuk kedua kalinya aku begadang di rumah teman dalam rangka menyelesaikan tugas. Dan yang kedua (sekaligus yang paling penting), sebagai konsekuensi dari sebab pertama tadi, aku mengikuti kuliah pagi ini dengan ngantuk-ngantukan (ya iya, sebab paling cuma tidur 1-2 jam sehari sebelumnya). Dan karenanya, dosen mata kuliah pagi ini menegur saya. "Sudah?" kata beliau. Pelan namun tegas, seperti yang beliau tampakkan pada kami selama ini. Aku langsung tersentak. Bukan karena aku ditegur, melainkan karena beliau menegur dengan sangat ramah. Ramah bagaikan induk burung yang membagikan makanan kepada anak-anaknya di sangkarnya. Padahal, 3 minggu sebelumnya, temanku yang bernasib sama denganku kena marah yang sangat besar dari beliau. Temanku tadi langsung diperintahkan untuk cuci muka dan jangan kembali sebelum kantuknya hilang.

Kontan aku bertanya-tanya, ada apa gerangan? Dan kemudian aku pun teringat. Ya, ini adalah minggu terakhir beliau mengajar mata kuliah yang kuikuti sekarang. Dan besar kemungkinan, ini sekaligus menjadi minggu terakhir aku diajar beliau dalam kampus ini. Dan bisa saja, ini terakhir kalinya aku berinteraksi dengan beliau. Karena dalam salah satu ucapannya, beliau berkata, "Saya akan pensiun tidak lama lagi…"

Dan perasaan yang menimpaku ternyata adalah perasaan kehilangan. Kehilangan guru yang telah mengajarkan begitu banyak ilmu bagiku. Tidak hanya ilmu kuliah, namun ilmu kehidupan. Beliau adalah salah seorang dosen paling kompeten dan paling hebat yang pernah kutemui semenjak aku menjadi mahasiswa. Dan kuyakin ratusan bahkan ribuan temanku yang pernah diajar beliau berpendapat sama.

Guruku, sangat banyak hal yang kuperoleh darimu. Andaikan benar bahwa engkau akan pergi, kuucapkan selamat jalan dan terima kasih tiada terkira. Kan kuingat semua pesanmu dan jasamu terhadapku. Dan tak lupa, bahwa aku pernah ditegur olehmu pada minggu terakhir aku diajar olehmu dalam perkuliahan. Terima kasih, guru kelas-0 ku.

Dominasikah aku ?

Sunday, April 16th, 2006

Kurang dari sebulan setelah aku menjalani hari pertamaku
sebagai mahasiswa informatika ITB 2004 (lupa tepatnya tanggal berapa ^^), aku
dipercaya teman-teman seangkatanku untuk menjadi pemimpin mereka, istilahnya
ketua angkatan. Bukan kapasitasku untuk menilai apakah aku sudah menjalankan
amanahku dengan baik, namun sampai saat ini, kurang lebih satu setengah tahun
sejak hari itu, aku masih dipercaya sebagai ketua angkatan mereka.

 

Salah satu tugas besarku sebagai ketua angkatan adalah
memimpin teman-temanku dalam menjalani proses kaderisasi awal dari Himpunan
Mahasiswa Informatika (HMIF), yaitu organisasi tempat kami (mahasiswa
Informatika ITB) bernaung. Lagi-lagi, bukan kapasitasku untuk menilai apakah
aku sudah menjalankan tugasku dengan baik atau belum, namun satu yang kusyukuri
adalah, alhamdulillah semua rekanku yang menjadi peserta kaderisasi tersebut,
yang dikenal dengan istilah Penerimaan Anggota Biasa (PAB) HMIF 2004, lolos
100% menjadi anggota biasa.

 

Bukan hal yang mudah dalam menjalankan amanahku saat itu,
dan juga saat ini. Dalam menjalani proses PAB, sempat terjadi beberapa kali
perselisihan antara kami dengan panitia. Sempat juga terjadi perselisihan
antara aku dengan panitia. Salah satu yang kuingat adalah, bahwa aku terlalu banyak
berbicara (interupsi, red ^^). Bahkan aku ingat dalam beberapa kali pertemuan,
aku dilarang untuk berbicara. Jadi, jika aku mengacungkan tangan pertanda ingin
berbicara, sang danlap sebagai wakil panitia langsung mengatakan “skip”,
pertanda bahwa interupsiku diacuhkan.

 

Tidak lama setelah itu, kami menjadi anggota biasa HMIF, dan
kami dapat berkontribusi lebih lanjut di dalamnya. Namun, salah satunya karena
teringat pesan panitia PAB, aku memutuskan untuk tidak terlalu terlibat jauh,
tidak menjadi orang penting di kegiatan-kegiatan HMIF. Alasan lain adalah aku
mencoba untuk berkontribusi di luar HMIF, salah satunya di Kabinet KM ITB. Dan
memang seingatku, dalam kepanitiaan di HMIF, aku hanya menjadi anggota satu seksi
saja, yang tugasnya membantu-membantu saja. Kecuali dalam kegiatan yang
dibawahi oleh divisi internal, karena memang orangnya sedikit jadi mau tidak
mau kebagian jadi koordinator/PJ juga. Kemudian, jabatan yang menurutku cukup
bergensi mungkin hanya anggota tim konseptor PPAB. Itu saja. Karena memang,
seperti kujelaskan sebelumnya, banyak kok orang yang hebat di IF 2004. Ada
Iqbal, Oliph, Ade, Vicky, Manda, Ibi, Sila, Fitri, dan buanyak lagi. Aku sudah
cukup lah di PAB kemarin saja…

 

Kemudian… setahun berlalu… keputusanku sekarang masih sama,
aku tidak ingin berkontribusi terlalu dominan di dalam HMIF. Oleh karenanya,
aku mengambil posisi sebagai pengawas, yaitu DPP. Eh, tidak disangka, temen2
DPP menginginkanku sebagai koordinator. Karena ini amanah dan kepercayaan, mau
tidak mau, akhirnya saya ambil amanah tersebut. Dan disinilah akhirnya, apa
yang kurasakan selama ini terbukti bahwa setidaknya bukan hanya perasaan saja.
Yaitu bahwa ada gosip kalau ada pihak yang tidak menyukaiku karena aku dianggap
terlalu mendominasi HMIF. Namanya juga gosip, pasti belum tentu benar. Tapi,
namanya juga gosip, orang yang terkena gosip pasti kepikiranlah. Dan benar, aku
kepikiran. Wah, rupanya ada yang tetap menganggap aku mendominasi HMIF ya?
Rasa-rasanya aku tidak sebegitunya? Atau apakah selama ini aku mendominasi
HMIF? Dominasi seperti apa?

 

Kata gosip tersebut, sebabnya aku itu ketua angkatan yang
dari dulu aktif, ternyata sekarang jadi koordinator DPP. Kenapa tidak memberi
jabatan itu ke orang lain? Well andaikan gosip itu benar, jawabanku hanya ini :
Aku sebagai ketua angkatan dan aku sebagai koordinator DPP kasusnya sama, yaitu
aku dipercaya oleh anggota2nya. Itu sudah cukup bagiku untuk menjalankan kedua
amanah tersebut. Jadi, sekali lagi andaikan gosip tersebut benar, maaf, saya
tetap menjadi ketua angkatan IF 2004 dan tetap menjadi koordinator DPP, selama
anggota di dalamnya mempercayai saya. Meskipun konsekuensinya adalah aku
dianggap mendominasi.

 

Pertanyaanku terakhir…… jika benar aku mendominasi? Jika
ya, mengapa dan apa alasannya? Dan yang paling penting.. itu salah?

TIdak pernah gagal juga masalah…

Wednesday, April 12th, 2006

Pernah baca buku Chicken Soup, Chocolate, dan lain-lain yang menceritakan kisah hidup yang menggugah? Pasti pernah lah ya… saya juga pernah membaca buku-buku tersebut, mengambil pelajaran darinya, dan berusaha untuk hidup untuk lebih baik dengannya. Sering juga membaca biografi orang terkenal untuk sekali lagi mendapat pelajaran hidup darinya. Memang darinya, aku selalu ingat bahwa, tidak penting sedalam apapun kita jatuh, yang penting adalah seberapa tinggi usaha kita untuk bangkit dari kegagalan…. Contohnya tuh, pasti tau kan tentang Thomas Alfa Edison yang gagal ribuan kali sebelum nemuin bola lampu? Pasti tau kan tentang presiden AS (lupa yang mana) yang harus jadi tukang semir sepatu dulu di waktu mudanya? Dan banyak lagi kisah pembelajaran tentang orang-orang hebat yang bisa bangkit dari kegagalannya, menjadi seorang luar biasa yang dikenang banyak orang.

Pertanyaanku sekarang….. lalu bagaimana kalau aku adalah orang yang tidak pernah gagal? Setidaknya, seingatku aku tidak pernah menemui kegagalan yang benar-benar "menghancurkan"ku. Kegagalanku yang kuinget tuh….

1) Gagal dapet beasiswa masuk NTU, "hanya" diterima saja tanpa beasiswa

2) Gagal masuk tingkat dunia waktu olimpiade matematika SMA, "hanya" sampai tingkat Asia Pasifik

3) Gagal jadi peringkat pertama lulusan terbaik pas SMP, "hanya" terbaik ketiga

4) Gagal jadi siswa teladan se-Jawa Tengah, "hanya" terbaik kedua
dan kegagalan-kegagalan lain, yang menurutku malah patut disyukuri karena tidak banyak orang yang bisa mencapai hal tersebut.

Ini suatu hal yang baik? Tidak. Justru menjadi masalah yang amat serius, setidaknya menurutku. Karena aku tidak pernah benar-benar belajar bangkit… setelah aku terjatuh ke dalam kegagalan. Karena hanya dengan mempelajari pengalaman orang, aku tidak benar-benar memperoleh pengalaman tersebut..

Karenanya aku sungguh berharap, orang yang memiliki masalah serupa atau mirip denganku, bisa memberikan jalan keluar… KIra-kira apa yang sebaiknya kulakukan saat ini, dan saat aku benar-benar terjatuh…