Archive for August, 2006

Ya deh, kukerjakan ^^…

Monday, August 28th, 2006

Ini di bawah ini daftar pertanyaan yang diminta Zakka untuk aku agar menjawabnya (ya ampun, grammar bahasa Indonesia yang payah!). Katanya, jawab pertanyaan2 di bawah ini, terus minta ke 5 orang lain untuk ngejawab juga… gitu ya Zak? Yowes, kukerjain ya…. 

The Quiz

1. Do the following

2. Choose 5 persons to do this

Favourites

Favourite Colour: ya biru lah,, yang bisa menenangkan alam ini,, yang memiliki unsur pembiasan paling sesuai sehingga langit dan laut berwarna biru pula ^^

Favourite Food: Banyak sih… tapi secara umum, ayam2an (goreng+bakar+bumbu)
Favourite Song: Sampe sekarang masih tetep suka sama It’s not easy to be me (Superman) -nya Five for Fighting.. so inspring ^^
Favourite Movie: Beautiful Mind tentunya…. "Dia tidak bertambah tua!" — gimana gak keren, logika dipake untuk menyangkal otaknya sendiri
Favourite Sport: Voli dari segenap penjuru dunia, hahaha… maksudnya dimanapun, maen voli tuh enak
Favourite Day of the Week: Sabtu, dimana aku paling bisa berkreasi
untuk menentukan kegiatanku
Favourite Ice Cream: Chocolate Sundae-nya Hotel Bintang Griya Wisata ^^

Currents

Current Mood: Masih dan mencoba untuk terus berbahagia, mensyukuri setiap nikmat-Nya
Current Taste: Ini apa maksudnya si?? Manis kali ya^^ Tapi lagi sariawan ni
Current Clothes: Kemeja item bercorak yang belinya di Yogya, celana panjang bahan hitem bergaris yang agak kepanjangan, sepatu FILA biru + kaos kaki coklat (gak matching? biarin :p)
Current Desktop: Desktop standar IRK, gak ada apa-apa selain warna biru polos plus beberapa icon standar di sebelah kiri kayak WinSCP, YM, Modzilla, dll
Current Toenail Colour: (Bentar buka kamus dulu….) Kuku jari kaki? Ya sealami warna kuku jari kaki orang lain deh, gak berwarna
Current Time:16.20.10
Current Annoyance: batuk + sariawan, sama pegel2 gara2 latihan taekwondonya capek buanget!!
Current Thoughts: Ada teman seangkatan yang menikah!!! Wah hebat sekali dia yah…. Masih 20 tahun sudah menikah… Aku kapan ya? ^^

First

First Best Friend: Dwi Rahmat Yunawan Saleh, panggilannya Dwi, temen SD yang tinggal deket rumah, selalu ngerjain macem2 bareng (makan, maen, sampe sempet jualan/bisnis gitu), sekarang dia kuliah di Atmajaya
First Crush: Glek… ^^ Primadona SD-ku, namanya… hahaha rahasia, si N**** lah pokoknya (Yang se-SD sama aku pasti kenal orang ini)
First Movie: Lupa juga sih… MacGyver kayaknya, soalnya dulu nge-fans banget
si :)
First Lie: lupa lagi,,, tapi yang jelas pas SD sih….
First Music: Cecak-cecak di dinding!! Itu adalah lagu pertama yang kudengar sekaligus kunyanyikan sebelum masuk TK hahaha… jadi ingat kenangan masa muda, meski belum tua juga sih sekarang.

Last

Last Cigarette: Gak merokok, dan Insya Allah tidak akan merokok
Last Drink: Air putih di galon di asrama
Last Car Ride: Gak bisa nyetir mobil T_T ajarin dong, Pik, or somebody lah! Hehehe
Last Crush: Glek lagi ^^… Ya seseorang dari gedung seberang kampus lah :)
Last Phone Call: Dyah Ayuni Wijayanti alias Upik, nelponnya Sabtu malem tgl 26 Agustus 2006 (lupa tepatnya), mastiin kabar tentang teman seangkatanku itu, hahaha
Last CD played: Apa ya? Kayaknya udah bertahun2 gak nyetel CD deh, tapi kayaknya sih OSTnya Final Fantasy deh

Have you ever

Have you ever dated one of your best friends: Kalo nemenin beli sesuatu itu termasuk nge-date kah? Kalau iya, ya pernah berarti.. Kalau gak, berarti gak pernah..
Have you ever broken the law: Naek motor gak pake helm itu melanggar hukum kan ya? Berarti pernah hehehe
Have you ever been arrested: Hehehe, untungnya yang barusan itu (naek motor gak pake helm) gak ketahuan, jadi belum pernah :)
Have you ever skinny dipped: (Buka kamus lagi….) What? Belum belum!!
Have you ever kissed someone you don’t know: Jangankan yang gak kenal, yang kenal pun belum pernah kok…

Tag 5 people!

Sama kayak Anggri aja deh, silakan bagi yang mau, japri aja hahahaha….. tapi secara khusus sih, sebenernya pengen tau tentang…. Trian Hendro Asmoro, Selvira Afiffa, Ismy Dianty, Mega Kusaladewi Gunung Hidayat, dan Wihaga Satya Kresna. Tapi sekali lagi, sok yang mau sok japri aja :)

Amanah yang amat sangat berat…

Thursday, August 24th, 2006

”Gue kecewa sama
lo, Jrin… Seorang ketua angkatan yang pinter banget dalam bidang matematika,
ngebiarin temen seangkatannya sendiri DO gara-gara gak lulus kalkulus?? Please
deh!!” itulah dampratan temanku padaku beberapa waktu lalu, setelah dipastikan
bahwa temenku yang dimaksud tersebut mengundurkan diri dan pindah kuliah ke
tempat lain. Sontak saja, bagai tersambar petir aku tersadar. ”Aku bukan dewa
penyelamat…” hanya itu jawaban yang bisa kuberikan, karena memang aku tidak
dapat menemukan alasan untuk membantah ucapannya.

 

Dan sekali lagi
aku tersadar akan peranku, yang selalu mengiringiku ke mana pun aku pergi.
Sebuah beban amat sangat berat yang terus menerus terpasang dalam pundakku,
yang takkan lepas kecuali memang itulah permintaan pihak-pihak yang terlibat.
Pihak itu tak lain adalah mahasiswa Informatika ITB angkatan 2004, dan beban
tersebut tak lain adalah ketua angkatan mereka (mahasiswa Informatika ITB
angkatan 2004).

 

Sedikit flashback
saja (lengkapnya ada di postingan beberapa bulan lalu), jujur kuakui bahwa,
saat aku terpilih menjadi ketua angkatan sekitar 2 tahun lalu, aku tidak pernah
menyangka bahwa tugasku akan seberat ini. Saat itu, yang ada di dalam pikiranku
adalah, tugas ketua angkatan adalah bagaimana mengatur keadministrasian dan
kelengkapan dalam angkatan, terutama sekali dalam menghadapi osjur (PAB HMIF
2004), yaitu bagaimana agar angkatannya kompak, bisa menyelesaikan tugas-tugas
osjur, dll. Saat osjur selesai (dengan semua peserta dilantik menjadi anggota
biasa HMIF), aku berpikir bahwa tugasku hampir selesai. Ya, suatu pikiran yang
sama sekali salah, karena ternyata aku menyadari bahwajabatan ketua angkatan
lebih merupakan jabatan moral (Kalau sebelumnya aku mengatakan ada dua jabatan,
struktural dan kultural, maka saat ini aku berpikir keduanya lebih cocok
disebut menjadi satu saja, yaitu moral), mengapa, karena tidak ada bentuk
pertanggungjawaban secara tertulis/hukum. Artinya, jika aku melakukan
kesalahan, tidak akan dituntut pidana, mungkin yang terjadi ya dimarahin seangkatan
kali ya ;).

 

Nah… jabatan
moral ini, ternyata membawa konsekuensi yang jauh lebih luas daripada yang
kubayangkan semula… Yaitu seberapa besar tanggungjawabku terhadap rekan-rekan
seangkatanku?? Banyak hal yang secara jelas menjadi tanggungjawabku, tentunya
dengan bantuan teman-temanku pula, misalnya jika satu angkatan diminta untuk
hadir dalam acara tertentu (misal acara himpunan, mukrab gitu lah), maka
menjadi tugasku untuk mengkoordinir teman-teman, misalnya untuk mengadakan
perembahan angkatan, atau saat angkatanku dipercaya untuk melakukan suatu
tugas, maka menjadi tugasku pula untuk mengkoordinir dan membagi peran kepada
teman2ku, siapa mengurusi apa, dan sebagainya…

 

Namun,, banyak
hal pula,, yang sulit kusadari,, apakah itu menjadi tanggungjawabku sebagai
ketua angkatan, atau tanggungjawab moralku sebagai teman, atau sama sekali
bukan tanggungjawabku? Contoh mudahnya adalah… Bagaimana jika ada teman yang
kesulitan akademis? Bagaimana jika ada teman yang sakit? Bagaimana jika ada
teman yang membutuhkan bantuan dana? Bagaimana jika ada teman yang memiliki
masalah pribadi dengan teman lainnya? Bagaimana jika ada teman yang ingin beli
hape baru? :P (Contoh terakhir jelas bukan tanggungjawabku ya
:) ).

 

Aku sendiri,
berpendapat bahwa contoh-contoh tadi (selain yang terakhir tentunya), adalah
tanggungjawabku secara personal (moral) sebagai teman, bukan sebagai ketua
angkatan. Namun, karena aku adalah ketua angkatan, maka seyogyanya aku memiliki
kapasitas lebih untuk berperan. Dan menurutku, kapasitas itu bisa berupa ajakan
kepada teman-teman lain untuk menunjukkan tanggungjawab moralnya juga.
Disinilah seharusnya aku menggunakan kapasitas tersebut. Dan disinilah aku bisa
menyatakan bahwa sampai saat ini aku kurang menjalankan amanahku dengan baik
sebagai ketua angkatan, dan bukti sederhananya adalah dampratan temanku tadi.
Seorang ketua angkatan yang baik, menurutku, seharusnya bisa menangani
contoh-contoh masalah tadi dengan baik.

 

Karena ternyata
banyak teman yang tidak bisa turut kubantu…

Karena ternyata
banyak masalah yang tidak bisa turut kuselesaikan…

 

Dan kembali ke
jawabanku terhadap temanku di awal tadi, alasan yang bisa kukemukakan adalah,
aku bukan dewa penyelamat. Tentunya tidak semua masalah pasti bisa
kuselesaikan, aku menyadari hal itu sepenuhnya. Pertanyaannya adalah, sudahkah
aku sekadar berusaha untuk turut menyelesaikan masalah-masalah itu?? Sudahkah
aku, misalkan menjumpai dan mengetahui ada teman yang mengalami kesulitan
akademis, menemuinya dan menyatakan ingin membantunya? Sudahkah aku, jika
mengetahui ada teman yang mengalami masalah dana, berusaha (hanya sekadar
berusaha!) mencari jalan keluar? Sudahkah aku peduli (hanya sekadar peduli!)
jika ada teman yang memiliki masalah pribadi?

 

Kukatakan dengan
tegas bahwa, jawabanku untuk pertanyaan-pertanyaan tadi adalah, tidak
sepenuhnya. Aku memang seringkali bertanya kepada teman-teman,
pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti, ”Apa kabar?”, ”Bagaimana kuliahnya?”,
”Tugas besar sudah selesai dikerjakan?”, ”Kondisimu bagaimana, sehat-sehatkah?”,
”Sekarang sedang sibuk mengurus apa?”, dan hal-hal lain semacam itu. Dan terus
terang, hampir semua jawaban yang kuterima adalah jawaban positif. Tapi aku
seolah-olah kurang peka bahwa ternyata ada sebagian temanku yang merasa sungkan
untuk sekadar mengadu masalahnya kepadaku, sehingga aku sendiri kadang tidak
mengetahui sebagian masalah yang melanda teman-temanku. Kekurangpekaanku ini
mungkin pula disebabkan oleh kesibukanku sendiri mengurus hal-hal lain (Di himpunan,
di kabinet, olimpiade matematika, PPSDMS, dan lain-lain), yang menjadikanku
sering berpikir bahwa, anak IF ITB 2004 sudah dewasa kok… Kekurangpekaanku
dan keengganan sebagian temanku untuk mengungkapkan masalah. Ternyata itulah
kunci permasalahannya… Meskipun hal ini sudah berulang kali kusampaikan
kepada mereka (misalnya pas di forum angkatan, untuk jangan sungkan kepadaku),
ternyata sebagian dari mereka memang tetap merasa sungkan.

 

Well… aku tidak
dapat menjawab, apa alasan yang membuat mereka sungkan… Dan aku tidak dapat
memaksa mereka untuk menceritakan masalahnya kepadaku, karena mungkin ada
masalah yang menurut mereka memang pribadi, dan mungkin banyak pula yang
merasa, memang aku punya apa dan bisa apa dalam urusan mereka? Kapasitas tadi.
Itu yang kupunya. Dan bila itu tidak cukup, yah… aku tidak mengetahui cara
lain untuk membuat mereka mengemukakan masalah yang mungkin dapat diselesaikan
oleh angkatan. Karena itu, aku harus menyadari, bahwa tugas besarku kini dan
selanjutnya, yaitu pertama, untuk meningkatkan kepekaan dengan lebih proaktif
mencari tahu sendiri masalah yang mungkin sedang melanda teman-teman. Kedua,
untuk lebih dekat dengan berbagai pihak, karena kuyakin banyak dari mereka yang
sungkan kepadaku, tidak sungkan kepada pihak lain. Dengan bantuan pihak
tersebut (bisa berupa teman seangkatan ataupun pihak di luar itu), aku bisa
mendiskusikan masalah2 tadi dan menentukan peran yang bisa kulakukan, dan HARUS
kuusahakan untuk kulakukan.

 

Teman-temanku
yang membaca tulisan ini, khususnya rekan-rekan Informatika ITB 2004, hanya
satu hal saja yang kuminta, bantulah aku dalam usahaku untuk menyelesaikan
masalah ini. Karena jika tidak, terus terang aku tidak dapat lagi menanggung
amanah ini. Aku, ke depan akan lebih mengusahakan dua hal tadi dalam usahaku
untuk menjalankan amanah sebagai ketua angkatan - yang notabene memiliki peran
jelas yaitu memimpin teman-teman Informatika ITB 2004 selama berkuliah di ITB
(bahkan mungkin sampai kita menjadi alumni?), tapi aku tidak akan bisa apa-apa
tanpa kalian, teman-temanku. Tanpa kalian, sepertinya sudah jelas, aku mundur
sebagai ketua angkatan. Eh, tapi perlu diingat, seperti pernyataanku beberapa
waktu lalu di forum angkatan, bahwa Insya Allah aku tetap bersedia menjadi
ketua angkatan dan berusaha lebih menjalankan tugasnya, jika kalian
teman-temanku memang menginginkannya dan mendukungku.

 

Aku tidak akan
lari jika kalian tidak menginginkannya, dan salah satunya karena aku memegang
teguh percakapan antara dua orang yang kuanggap hebat sebagai ketua angkatan, keduanya ketua angkatan di salah satu jurusan di ITB angkatan 2003, yang juga menjabat sebagai petinggi di kepanitiaan OSKM ITB 2005
(Terjadi sekitar satu tahun lalu, saat diklat panitia OSKM 2005) :

X : Gue mau berhenti jadi ketua
angkatan!

Y : Kenapa?

X : Temen seangkatan gue, 7 orang
(Eh 7 atau berapa ya? lupa
^^ ) mau di-DO dan gue gak bisa bantu
apa-apa.

Y :
Terus kenapa lo mau mundur?

X : Ya gue malu
lah, gue gak bisa ngapa-ngapain sebagai ketua angkatan mereka.

Y : Ya okelah lo ada tanggungjawab
ke angkatan lo. Tapi bukan mundur caranya. Caranya yang bener ya dari sekarang, lo
berusaha sungguh-sungguh, biar ke depannya gak ada lagi angkatan lo yang di-DO!

 

Dan Insya Allah,
itu yang akan kulakukan, tapi sekali lagi, hanya dengan dukungan kalian semua,
teman-teman mahasiswa Informatika ITB angkatan 2004, yang kucintai dan
kubanggakan.

LIfe Is Beautiful

Sunday, August 20th, 2006

Terjemahan bebas dari artikel "Life is Beautiful" di Eagle’s Wings 2000 di bawah ini, mungkin merupakan salah satu artikel yang membuatku menangis, setelah sekian lama aku tidak menangis (Sampai lupa, kapan ya terakhir aku menangis? Kayaknya sih pas nonton One Litre of Tears ^^ ). Mungkin bisa sedikit menjadi pelajaran bagi kita semua, tentang arti kehidupan yang kita jalani sampai saat ini dan ke depannya pula. Terutama pula, bila kita merasa bahwa hidup kita tidak menyenangkan, dan merasa iri dengan kehidupan orang lain yang terlihat menyenangkan…

“Pernah nggak sih kamu ngerasain kalo hidup itu bener-bener ‘bad’ dan nggak berarti lagi? Dan berharap, coba kalo kita bisa ada di kehidupan yang lain !

Saya akui, saya cukup sering merasa begitu. Saya pikir, hidup ini kayanya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja! ‘Kerja menyebalkan’, hidup tak berguna’, dan nggak ada sesuatu yang beres!!

Tapi semua itu berubah… sejak kemarin.

Pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah! Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita.

Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan-tagihan rumah tangga yang numpuk!!! Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat.

Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India. Ia mengatakan bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!!

Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur sekitar 4 tahun!!, terus menghantuinya sampai sekarang.

Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu so naughty atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong?

Ternyata tidak!!!

Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat.. MENGEMIS…!! Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan!!

Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN!! Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri.

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu. Mereka berebutan untuk memakannya!! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan).

Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami,kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat.

Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya. Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25 / potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $ 100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari.

Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang-orang dewasa disitu! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini!!

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $ 0,25!!

Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi, punya begitu banyak hal di mana orang-orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN!!

Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga! Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali!! Nah, bagaimana dengan kamu?

Mungkin di waktu lain saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan..!!

Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita BERSYUKUR??? Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki??”

Indonesiaku, ternyata aku mencintaimu…

Thursday, August 17th, 2006

17 Agustus 2006, pukul 15.45 saat ini.. berarti sudah 61 tahun (lebih beberapa jam sih - kalo gak salah proklamasi Indonesia tuh jam 10an kan ya? ^^) ini, Indonesia, negara yang kucintai, tempatku dilahirkan dan dibesarkan (dan kemungkinan juga berlaku untuk Anda-anda yang membaca tulisan ini - soalnya kalo orang asing kan, dikit yang bisa baca ^^), merdeka…

Berarti sudah 61 tahun lebih pula sejak kedua orang besar itu (Tidak bisa dipungkiri, mau bagaimanapun Bung Karno dan Bung Hatta tetaplah proklamator kemerdekaan Indonesia), mewakili seluruh rakyat Indonesia saat itu, mengemukakan sebuah ‘proklamasi’, yang secara harfiah berarti menunjukkan (memproklamirkan) kepada seluruh dunia bahwa Indonesia itu ada! Negara kepulauan di antara Asia dan Australia beserta seluruh rakyatnya ada! Siap bersatu dan membangun negeri ini sendiri! Bukan atas kekuasaan negara/pihak lain!

Ya…. bukan atas kekuasaan pihak lain.. itulah yang selalu kucamkan… Bahwa negara merdeka (seperti layaknya manusia merdeka) berhak mengatur hidupnya sendiri, berhak memperjuangkan nasib rakyat mereka sendiri… Tapi pertanyaannya terus saja berulang… Benarkah negara kita Indonesia seperti itu?? Setelah 61 tahun kita seharusnya merasakan kemerdekaan, benarkah bahwa Indonesia seperti itu?? Tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan bahwa tiap-tiap orang di negeri ini punya utang sekitar 7 juta rupiah kepada pihak lain (Ga tau kepada IMF, ga tau negara maju, whatever lah) — sebab, kabar terakhir, utang negara kita tuh 1500 trilyun rupiah, bagi aja sama 220 juta penduduk Indonesia…

Tidak perlu pemikiran mendalam pula, untuk melihat bagaimana aset-aset — harta-harta bangsa ini diambil dan dimanfaatkan pihak asing, bukan dimanfaatkan oleh rakyat kita sendiri… Dan sekali lagi, tidak perlu repot-repot untuk mencari tahu, bahwa hampir semua kebijakan negara kita, dipengaruhi oleh pihak asing…

Namun… namun nih… Jangan dulu ngerasa kehilangan kebanggaan jadi warga negara Indonesia… Seorang temen di lain provinsi bilang bahwa sebenernya rakyat kita itu tidak ketinggalan dengan rakyat negara lain kok… Mau bukti konkret? Sudah berapa banyak coba medali di olimpiade akademis yang dibawa oleh putra putri terbaik bangsa kita… Sudah berapa banyak pula ilmuwan kita yang diakui oleh negara lain (bahkan menjadi top manager pula di luar sana)… Pertanyaannya sekarang, mengapa orang-orang hebat itu sebagian besar tidak ada disini? Mengapa mereka seolah-olah tidak ingin mengangkat harkat martabat bangsa ini? Karena justru kita yang kurang menghargai mereka bung… Kita sendiri, yang kurang menganggap bahwa mereka - yang notabene warga negara Indonesia - memiliki andil besar untuk bangsa ini…

Jadi teringat dengan pembicaraan dengan seorang tenaga pendidik di negeri ini… Saat itu, aku bertanya kepada beliau, mengapa beliau terus saja menjadi pengajar, padahal dengan ilmu yang dimilikinya, beliau bisa menjadi developer handal di perusahaan multinasional lah… Jawaban beliau kira-kira begini : "Kalau hanya mengejar materi, mungkin dengan menjadi tenaga-tenaga ahli di perusahaan asing, saya sudah bisa mendapatkannya, dan saya akan menjadi orang yang kaya raya dalam sekejap saja.. tapi bagaimana dengan rakyat Indonesia lainnya? Yang saya inginkan adalah kesejahteraan yang menimpa sebanyak mungkin rakyat negeri ini, bukan kesejahteraan saya pribadi… dan untuk saya, itu hanya bisa saya lakukan jika saya menjadi pengajar…"

Maknanya secara tersirat sih…. kalau kita ingin berbakti buat negeri ini (jadi pengajar,de-el-el), siap-siap untuk miskin… tapi kalau kita tidak merasa perlu untuk itu, maka dengan menjadi karyawan perusahaan2 asing, lebih dari cukup untuk menjadi kaya sendiri…

Itu bukan cerita fiksi, teman… Karenanya, mungkin di hari ini, sedikit saja usulan dari saya,,, agar kita bersama-sama tidak membuat dua pilihan seperti itu… Cukup satu pilihan saja untuk seluruh rakyat, yaitu agar bisa mensejahterakan bangsa ini termasuk diri sendiri.. mungkin? Mungkin…. jika kita melakukannya secara bersama-sama…

Karena kemerdekaan kita 61 tahun lalu pun, dianggap mustahil oleh sebagian besar bangsa lain (bahkan ada yang mengatakan, Indonesia tidak akan merdeka lebih dari 8 hari! Kenyataannya? Sudah lebih dari 20000 hari kita merdeka….), tapi ternyata kita mampu mewujudkannya…. karena ‘kita’ yang dimaksud disini adalah seluruh, sekali lagi seluruh, rakyat Indonesia…

Sekarang, bersediakah Anda melangkah bersama seluruh rakyat, membangun negeri ini, meskipun itu mungkin hanya berupa sedikit uluran tangan saja? Aku bersedia. Karena Indonesiaku, kukatakan sekali lagi, ternyata aku mencintaimu… :)

Merdeka!!!

(meski tadi pagi tidak ikut upacara bendera, tapi bukan berarti aku tidak melupakanmu, negaraku ^^)

Sepenggal kisah… 22000 kilometer perjalanan (Part 3 - habis)

Saturday, August 12th, 2006

Hehehe.. oke deh.. kuselesaiin di bagian ini ya^^…

Hanya ada tiga tempat saja yang kami kunjungi di Turki (eh lima deng, sama tempat makan sama tempat beli oleh2 :) ), dan langsung saja… Yang pertama kami kunjungi adalah Masjid Sultan Ahmad, populer dengan sebutan Masjid biru - soalnya lantai dan atapnya warnanya biru. Mesjid itu mungkin mesjid terbesar yang pernah kukunjungi… (Gatau tapi lebih besar mesjid itu atau Istiqlal ya?). Mesjid yang dibuat tidak lama setelah kekuasaan Islam sampai di Turki setelah perang salib usai, sekitar abad 15-16. Megah, luar biasa megah mesjid tersebut, mampu menampung 5000an jamaah, dengan berbagai ornamen dan lampu2 yang mempercantik bagian dalam mesjid, dan pintu2 besar serta dinding2 tinggi di sekeliling mesjid yang sekaligus membuat mesjid tersebut menjadi benteng pertahanan umat Islam pada zaman pertengahan lalu. Mesjid itu memiliki 6 menara, yang konon dibuat sejumlah tersebut karena salah paham antara Si Sultan dengan si arsiteknya (Agak gak ngerti juga sih maksudnya apa?). Oh ya, sama seperti di Dubai, tempat wudhu di sini juga duduk euy.. tapi pas nyobain sih, aku tetep berdiri, gak enak sih kalo wudhu sambil duduk ^^.

Tempat kedua, Aya Sofia, mungkin menjadi salah satu simbol peninggalan sejarah internasional masa lampau pertama yang pernah kukunjungi… Dulunya, Aya Sofia itu adalah sebuah gereja, pas jamannya perang salib… Nah pas Konstantinopel dikuasain umat Islam tahun 1453 (oleh siapa? Lupa euy), kan kota itu diganti tuh namanya jadi Istambul, demikian pula gereja Aya Sofia langsung diubah jadi mesjid Aya Sofia. Tau kan kalo biasanya mesjid itu di bagian dalemnya banyak ukiran2 kaligrafi bertuliskan Allah, Muhamad, dan kutipan ayat Al Quran? Nah yang menarik tuh, meskipun di mesjid Aya Sofia juga banyak ukiran2 kaligrafi tersebut, namun ornamen2/hiasan2 peninggalan gereja tersebut gak semuanya diubah, jadi tetep aja ada lukisan (kalo orang Kristen menyebutnya) bunda maria dan yesus… Yang diganti tuh cuman muka-nya Arcangel (malaikat tertinggi) Gabriel, yang ditutup oleh semacam peralatan makan (karena tidak boleh ada gambar muka kan di dalem mesjid, tapi yang bunda maria dan yesus itu dikecualikan ya? Ada yang bisa menjelaskan?).. Nah ceritanya setelah Kemal Pasha (Kemal Attaturk) menguasai Turki, jadilah Aya Sofia sebagai museum, hingga saat ini… Di luar itu semua, bangunan ini, Subhanallah… juga megah,megah sekali.. menandakan betapa hebat peradaban manusia masa lalu.. bangunan ini menjulang luar biasa tinggi, bahkan aku harus benar-benar mendongak ke atas sampai batas maksimal untuk melihat seberapa tinggi bangunan ini… bahkan untuk naik ke lantai 2, tangganya luar biasa berliku-liku, sampai ngos-ngosan saat tiba di atas euy! Dan dalam hatiku, aku berjanji, Ya Allah, jika Engkau mengizinkan, suatu saat aku akan kembali ke tempat ini, bersama dengan keluargaku, dengan kemampuan (finansial)-ku sendiri. Amin….. ^^

Tempat ketiga, Istana Topkapi, peninggalan bersejarah kerajaan Turki masa lampau.. Dua hal yang menarik dari sini, pertama, terdapat bangunan yang menyimpan semua perhiasan yang digunakan oleh sultan2 jaman dulu, yang kalau dijual mungkin bisa nutup utang Indonesia (kabar terakhir : utang Indonesia itu 1500 trilyun rupiah, koreksi kalau salah). Gimana gak mahal banget, soalnya, sebagai contoh, satu kursi raja tuh, dibuat dari emas, dan dilapisi ratusan (atau ribuan?) permata, yang harga tiap permatanya senilai ratusan juta bahkan mungkin milyaran rupiah… Dan ada puluhan (atau ratusan?) peninggalan semacam itu.. Kedua yaitu, terdapat bangunan yang, Subhanallah, di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan Rasulullah dan para sahabat. Ada pedang Nabi (panjang sekitar 90 cm) yang bersarung emas beserta panahnya, pedang para sahabat (Yang paling besar itu pedangnya Ali, dan yang paling kecil pedangnya Umar - tapi yang paling kecil itu ya masih termasuk besar menurutku sih), terus juga beberapa peninggalan Rasul lainnya seperti cincin, tulisan tangan Nabi ke raja Persia, dll…

Subhanallah, luar biasa ya? Tapi tahu tidak, kunjungan ke tempat-tempat ini malah membuatku takut lho… Kenapa? Soalnya aku sudah dapat semua kesempatan ini, bagaimana jika aku tidak berprestasi di lombanya? Oleh karenanya, aku bertekad akan berusaha semaksimal mungkin… Kumohon hanya pada-Mu, ya Allah…. Dari situ, langsung menuju tempat makan bung! Makannya gak jauh beda sama di Dubai, nasi gurih dan daging, tapi bedanya, di sini harus makan roti juga, padahal udah kenyang ^^ Oya, terus saladnya bener2 luar biasa segar deh… ”Tesyekure”, kata kami kepada pegawai restorannya, kata yang berarti terima kasih. ”Kurekure”, kata dia, yang berarti sama-sama. Dari situ, kami beli oleh2 di tempat perbelnjaannya… Oya, sempet juga lho aku nyobain jas yang harganya 20 juta rupiah bung! Gile mahal betul… Makanya cuman nyoba doang … Tapi secara umum memang mahal barang2 disini… Gantungan kunci tuh sekitar Rp 15.000, gelas sekitar Rp 50.000, jilbab Rp 300.000, makkk… Mahal pisan…

Selesai? Ya, itulah akhir perjalanan kami menjelajah Turki. Dari tempat beli oleh2, kami langsung menuju bandara, dimana pesawat Tavrey Airlines jurusan Istambul - Odessa sudah menunggu. Terima kasih kepada Mbak Susan beserta para pegawainya atas jalan2nya ya…. Dan tidak lama, kami sudah berada di dalam pesawat tersebut, melanjutkan 1 jam perjalanan Istambul - Odessa. satu hal yang menarik di pesawat sih, kan ada koran tuh, pas kubaca, tulisannya sama sekali gak kumengerti! Ternyata Ukraina punya huruf abjad sendiri, yang hanya pernah kulihat di film2 yang dibuat di Rusia… Oya, aku tidak berani makan burger yang disajikan di pesawat, takut tidak halal…

Pukul 19.00 waktu setempat kami tiba di Odessa, Ukraina. Zona waktu Odessa dan Istambul tidak berbeda (GMT + 3, jadi selisih 4 jam dengan Jakarta). Senangnya menjelajah berbagai negeri! Tapi euy, baru sebentar merasa senang, eh tiba-tiba jadi kesel, karena di bandaranya kami dapat masalah. Kami tidak diperkenankan melewati daerah pemeriksaan paspor, kayaknya kami dicurigai gitu…. (Sempet kami berpikir, jangan2 Indonesia dianggap sarang teroris oleh negeri ini :p). Yang jelas, setelah melewati berbagai prosedur (ngisi berbagai form ini-itu, ditanyain macem2, ngasi surat undangan dari panitia lombanya, de-el-el), kami baru keluar dari situ jam 21.30 lebih. Eh ternyata di luar sudah ada orang yang nunggu kami, yang megang kertas bertuliskan ”IMC - Indonesia”. Dan yang bikin kaget, orang tersebut (lebih tepatnya orang-orang) bukan dari Kedubes RI untuk Ukraina, tapi perwakilan dari panitia IMC yang sekaligus merupakan gadis muda cantik hehehe.. kayaknya mereka (ada 3 orang) seumuran deh sama kami. Tapi gak sempet kenalan bung, soalnya busnya udah nunggu, jadi harus cepat2 berangkat. Busnya kecil, hanya muat sekitar 20 orang, dan di dalamnya selain kami (tim Indonesia), juga terdapat tim Mongolia. Lagi-lagi tidak sempat berkenalan, karena perjalanannya sebentar aja euy, dan ternyata lagi, tempat penginapan kami berbeda. Mengapa? Alasan yang terjawab setelah esok hari…

Sampai di penginapan sekitar pukul 22.00, dan penginapannya itu berbentuk kumpulan rumah2 kecil (vila atau apalah istilahnya), pokoknya rumah itu tuh ya hanya satu kamar aja, ada dua tempat tidur, satu meja dan satu TV di dalamnya. Aku serumah sama si Nanang UGM, Prastudy UI sekamar dengan pak Nur dari Dikti, nah Ibu Siti sekamar dengan team leader dari tim slaah satu universitas Iran, dan Rangga ITB sekamar dengan mahasiswa Ishafan University Technology, Iran, namanya Behrouz.

.

.

.

.

.

20 Juli 2006

Nah baru hari ini nih bisa melihat Ukraina di siang hari… Oya waktu sholatnya sama saja dengan di Turki, jadi kebiasaan baru ini terus dilanjutin deh (Makan malam sore2, Isya jam 23.00, dll). Yang berbeda itu tentunya arah kiblatnya. Sebelum berangkat dari kampung, aku sempat melihat atlas, dan kira2 arah kiblat dari sini itu ke selatan serong kiri sekitar 15 derajat. Jadi, kami cukup menanyakan arah selatan kepada penduduk sini. Oya, mengapa kami sepenginapan dengan tim Iran? Ternyata alasannya adalah, kami sama-sama muslim. Jadi, mengatur menu makannya pun disesuaikan. Wah, terima kasih sudah menghormati kami ya, panitia… Tapi ya, jadinya harus sedikit bersabar deh… karena menu lauk yang paling sering kami lahap itu terong plus jamur! Mak… kadang2 telor sama ikan,,,, tapi yang paling sering (bahkan selalu) itu roti sama keju, sama terong tadi…. Mama, mau nasi goreng T_T… bosen euy makan terong (meskipun diolahnya macem2)…. Eh btw, suasana kota Odessa tuh gak jauh beda sama di Indonesia lho.. rumput2an dan pepohonannya begitu hijau, sama seperti di Indonesia. Yang beda banget itu ya orang2nya… Karena ini musim panas sepanas-panasnya suhu disana, pakaian orang2 sana tuh, alamak…. luar biasa sulit bahkan untuk menjaga pandangan… Ya tau sendirilah kayak di film2 barat, apalagi yang film2 tentang pantainya…

Btw, jadwal hari ini tuh registrasi, dilakukan di Universitas tua bernama Moloda Gvardija. Sekitar 25 menit jalan kaki dari penginapan, kami tiba disana. Menurutku sih universitas itu lebih cocok disebut kompleks universitas, karena di dalamnya ada asrama, tempat rekreasi pantai, sarana umum, dll (Bangunan utamanya hanya berjarak beberapa puluh meter dari laut lho… Laut Hitam, yang sepenglihatanku sih gak bener2 hitam kok :P cenderung hijau warnanya, karena banyak rumput laut, dan cukup bersih dibandingkan laut pada umumnya di Indonesia). Dan ternyata universitas itu memang benar2 tua… Didirikan tahun 1865, rasanya bangunan utamanya lebih mirip museum daripada kampus ^^. Bahkan toiletnya pun, kuno dan kotor banget euy… Tapi banyak sekali orang yang melakukan aktivitas disini, baik berhubungan dengan IMC, maupun yang jalan-jalan. Begitu banyak orang yang ingin ke pantai lewat depan pintu utama gedungnya, termasuk hari ini.

21 Juli 2006

Hari ini diadakan upacara pembukaan IMC, International Mathematics Competition ke-13, di Moloda Gvardija, dan kami memakai seragam batik + peci, yang membuat kami benar2 merasa seperti selebritis lho… Hahaha, soalnya sepanjang perjalanan kami diliatin terus sama orang2… Pasti karena menurut mereka aneh orang yang memakai pakaian seperti ini di musim seperti ini, karena pada umumnya pakaian mereka ya… gitu deh.. Paling maksimal tuh kaos dan celana pendek (Minimalnya gak usah disebut lah^^). Ternyata, pakaian seperti itu pula lho yang digunakan oleh peserta2 dari negara lain.. Banyak yang pakai celana pendek gitu… Selain kami, yang menurutku rapi tuh cuman peserta dari Iran, yang pada pakai jas.

Eh ternyata keterkenalan kami masih berlanjut lho (Ge-er banget ya!), soalnya sehabis acara pembukaan itu, kami sempat diwawancarai beberapa kali oleh stasiun TV sana, dan aku termasuk dua kali diwawancarai. Karena aku sama sekali gak bisa bahasa Ukraina ataupun bahasa Rusia, wawancaranya pakai bahasa Inggris. Sempet ditanya darimana asalku, berapa derajat lintang dan bujur negaraku (Hayo berapa coba??? Kalau gak salah inget, aku ngejawab Indonesia itu terletak di 95 BT - 141 BT dan di 6 LU - 11 LS, koreksi lagi kalo salah), bagaimana pendapatku tentang negeri Ukraina dan tentang kompetisi IMC, dan lain-lain… Dan ternyata, pas kami sore hari beristirahat di kamar dan menyalakan TV, ada lho wajahku terpampang di TV pas diwawancarai,,, wehehehe…. karena ini kesempatan langka, TVnya kufoto, biar bisa jadi bukti ke orang-orang di Indonesia hehehe….

22 Juli 2006

Finally, the time has come… Ya Allah, aku telah sampai disini dan berusaha semampuku hingga saat ini dan berdoa pada-Mu, selanjutnya kuserahkan sisanya pada-Mu. Ya, dua hari ini (22-23 Juli), inilah hari tes IMC 2006. Tempatnya sama di ’museum’ itu, dan pernyataanku tentang bangunan tersebut semakin kukuatkan karena bahkan untuk menemukan ruang ujiannya saja, kami sangat2 kesulitan, harus naik tangga turun lagi bolak-balik ketemu jalan buntu dan seterusnya.. hingga sudah capek nih pas sampai di tempat lombanya :( Jam 08.15, tes dimulai, dibuka langsung oleh John Jayne, presiden kompetisi tersebut. Dan berlalulah waktu selama 5 jam, waktu yang dialokasikan untuk tes tersebut… Hm..cukup baik hasil yang bisa kuperoleh, menurutku,,, sepertinya target minimal HM Insya Allah bisa tercapai, jika besok tidak ada kejadian yang istimewa… Tapi, aku ingin lebih baik lagi… Third prize/medali perunggu ingin kuraih… Oleh karenanya, besok aku harus berjuang lebih baik lagi…

Eh ada satu hal yang menarik di sana, kan abis tes kami beli air minum tuh… kami beli yang bentuknya mirip Aqua botol besarlah, seharga kira2 Rp 6000,-. Nah pas dicoba, kirain air mineral biasa, ternyata air mineralnya bercampur soda bung! Persis fanta putih, yang biasa disajiin terpisah kalau kita pesan susu soda di restoran-restoran Indonesia itu lho… Waksssss!!!! Jadi gak ngilangin haus nih… Pahit!! Tapi untungnya kami juga beli jus buah seharga sekitar Rp 12000,-, lumayan menyegarkan deh ^^

23 Juli 2006

Ternyata untuk tes hari ini, aku tidak memperoleh kemajuan berarti daripada kemarin. Aku tidak tahu, apakah aku bisa mendapat Third prize atau tidak? Kalau HM (Honorable Mention) sih Insya Allah sudah di tangan… Ya, apapun, yang penting aku sudah berusaha semampuku, dan kembali, kuserahkan sisanya pada-Mu, Ya Allah. Oh ya, setelah tes hari ini, berarti waktu bebas untuk kami! Yippiiieeeee.. ayo kita jelajahi negeri ini!!! Kebetulan sekali, hari ini kami kedatangan tamu, namanya pak Nanang, dari kedubes RI untuk Ukraina, yang bersama sopirnya terus menemani kami selama di Ukraina. Jalan2 pun dimulai… Kami menjelajahi pusat kota Odessa dengan naik mini van yang disediakan pak Nanang untuk kami. Pusat kota berjarak 30 menit perjalanan dari Moloda Gvardija. Ternyata Odessa merupakan pintu gerbang laut utama di bagian selatan Uni Soviet dulu, sehingga sekaligus menjadi pusat armada militer laut negara yang kini sudah terpecah-pecah itu… Dengan menjadi pusat laut tersebut, banyak pihak yang tertarik untuk mengunjungi kota ini, sehingga banyak bangunan bersejarah peninggalan berbagai pihak di kota ini. Gedung opera adalah tempat pertama yang kami kunjungi, yang merupakan gedung opera terbesar kedua di dunia (Tapi gak tau yang pertama ada dimana ^^). Gedung itu luar biasa besar, dengan tulisan kuno terdapat di puncak depan - atas bangunan tersebut. Kini bangunan itu hanya menjadi museum saja. Btw, arsitek gedung tersebut ternyata banyak ditiru bangunan-bangunan lain di kota ini, dengan ciri khas, bangunan yang tinggi besar (ruko2 di sana minimal memiliki 4 lantai) dengan ornamen-ornamen kuno beserta jendela besar dan rapat. Konon bangunan itu sangat baik di negeri 4 musim seperti disana.

Selanjutnya, kami mengunjungi kompleks muka laut pelabuhan (belum sampai ke pelabuhannya), dimana terdapat patung orang Perancis yang berjasa besar terhadap pendirian kota itu (lupa siapa namanya), dan disisinya terdapat mobil Cadillac tua berwarna pink. Ternyata disana, barang-barang unik dibisniskan dengan cara menawari orang2 untuk berfoto bersama barang2 tsb. Kami berfoto saat naik mobil Cadillac tersebut, tapi tidak tahu berapa biayanya, karena dibayarin pak Nanang ^^. Bahkan jika ingin berfoto bersama binatang pun (ada anak kuda kecil lucu seukuran anjing, ular aneh, burung elang, de-el-el), kita harus membayar! Yasudah, batal deh niat berfoto bersama limousin superpanjang yang ada di deket Cadillac tadi.

Terakhir, kami mengunjungi pusat oleh2 (harus itu!). Berada di tengah taman kota2, strategis sekali tempat ini. Ternyata yang paling menarik justru penjual-penjualnya (bukan menarik tampangnya, jangan ngeres dulu :p). Sebagian besar mereka (orang-orang dewasa itu) tidak bisa berbahasa Inggris bung! Lho kenapa? Karena jaman dulu kan Ukraina masih bareng Uni Soviet, dan tau sendiri kan dulu jamannya Cold War, jadi Uni Soviet anti banget dengan semua yang berbau-bau Barat, termasuk bahasanya. Nah, setelah Ukraina merdeka tahun 1991, barulah bahasa Inggris dijadikan materi sekolah-sekolah disana. Akibatnya, justru anak-anak muda negara tersebut lebih mahir berbahasa Inggris daripada orang tuanya. Hal ini kabarnya berlaku di hampir semua negara-negara pecahan Uni Soviet. Makanya, ada penjual yang menyertakan anaknya dalam berdagang, supaya bisa berkomunikasi dengan orang asing.. Disini saya membeli satu matrioska, yaitu boneka khas negara-negara Soviet, terbuat dari kayu, dan boneka tersebut bisa dibuka dan di dalamnya terdapat boneka lagi dengan ukuran lebih kecil, dan boneka yang lebih kecil itu bisa dibuka lagi, begitu seterusnya hingga boneka terkecil yang sekecil peluru mainan (yang bulat itu lho), harganya 45 hryvnia (itu mata uang sana, dibacanya grivna), atau sekitar Rp 80000,-

.

.

.

.

.

24 Juli 2006

Nah kalo hari ini itu jadwalnya ekskursi, artinya jalan2 resmi seluruh peserta, agar kita bisa saling akrab dengan peserta lain, bertukar informasi, de-el-el. Berangkat dari Moloda Gvardija sekitar jam 10.30, ternyata beberapa tempat tujuan kami sama dengan kemarin, gedung opera dan kompleks muka laut pelabuhan. Bedanya, kini kami bersama-sama peserta lain, ada tour-guide, dan yang terpenting, kali ini kami tidak hanya sampai ke pelabuhannya, bahkan naik kapal cukup besar untuk menjelajah Laut Hitam! Sekali lagi aku bersyukur memperoleh kesempatan-kesempatan ini, ya Allah… kami berempat, tim Indonesia memilih duduk di dek buritan kapal, agar bisa menerawang jauh ke segala arah… Pernyataanku tentang Laut Hitam beberapa hari lalu ternyata benar, karena laut ini menurutku sih sama saja warnanya sama laut lainnya, atau mataku yang salah? :p Btw, lautnya sangat jernih, meskipun pelabuhan disini digunakan oleh semua jenis kapal, dari kapal penumpang, kapal tanker, sampai kapal pengangkut ikan.. Bahkan kawanan burung seperti di Turki pun tampak disini, di lepas pantai pelabuhannya, juga di sekitar Mercu Suar yang kami lewati…

Kami berputar di laut Hitam selama sekitar dua jam, dan setelah kembali ke daratan, kami mengunjungi museum yang di dalamnya terdapat fosil batu-batuan dari jaman pertama kali bumi terbentuk, asal mula laut, zaman dionsaurus, zaman purba, hingga saat ini. Dan di museum itu juga terdapat fosil binatang2 zaman dulu, yang paling kukagumi tentu saja fosil Mammoth utuh yang luaaaarrrrrr biassaaaaa guedheeeee… Masa tinggiku cuman selututnya dia?? Tingginya 5 meter lebih kali tuh… Gadingnya juga besar.. Pokoknya lebih besar dua kali lipat daripada gajah2 zaman sekarang lah! :) Dan setelah itu, ekskursi pun usai… Yang menurutku kurang itu, gak ada sesi beli oleh-olehnya nih!! Ya sudah, besok atau lusa deh, sebelum pulang… Oh ya,, ternyata kedubes itu baik banget lho… Kami disini diberi stok makanan dan minuman tiap hari (Ada air mineral murni juga bung!! Gak lagi air soda pahit itu ^^), dan karena tahu kami diberi makanan semacam terong itu, pak Nanang ngajak kami makan di restoran Timur Tengah, dan disana kesempetan juga makan nasi gurih, sate kambing, roti daging, soto daging,de-el-el, yang sedikit banyak lebih mirip dengan rasa masakan Indonesia lah,,, lumayan buat ngobatin rindu… Makanan serupa pun dikirimkan oleh Pak Dubes langsung dari Kiev kemari, buat makan malam. Sepertinya sih, mereka sangat senang kedatangan tamu setanah air, setelah mungkin berbulan-bulan gaulnya pakai bahasa Rusia terus :P

25 Juli 2006

Nah hari inilah waktunya upacara penutupan, sekaligus pengumuman hasil IMC. Ya Allah, sekali lagi, ku telah berusaha dan berdoa, kini ku bertawakal, menyerahkan hasilnya pada-Mu. Btw, upacara penutupan baru mulai jam 19.00, jadi siangnya? Tentu saja jalan2 lagi dong…. Kan belum kesampean beli oleh2… Akhirnya kami kembali ke sentra oleh2 di taman kota itu, dan disana borong banyak deh…. puluhan gantungan kunci, puluhan magnet, juga puluhan peluit, kubeli buat temen2 dan keluarga. Oya, juga ada beberapa hiasan dinding dan hiasan meja. Borong bung…. kan banyak pihak yang sudah mendoakan aku, masa aku tidak memberi apa2 kepada mereka :)….

Pukul 19.00, John Jayne membuka upacara tsb sekaligus mengumumkan hasil lomba. Nanang UGM, dengan nilai 85, dapet Third Prize. Prastudy UI, dengan nilai 88, juga demikian. Rangga ITB, dengan nilai 36, mendapatkan certificate. Aku?? Nilaiku 73. Ternyata… HM. Kurang 7 angka untuk mencapai Third prize (batasnya 80), tentu saja ada sebagian hati kecilku merasa kecewa. Tapi bagaimanapun, aku bersyukur pada-Mu ya Allah. Aku pun puas karena memang kemampuanku seperti ini, dan memang perolehan nilaiku pun kuprediksi sekitar itu (70an atau 80an). Namun,,, dalam hatiku aku bertekad,,, dua tahun lagi, jika diberikan kesempatan oleh Allah, aku akan mengikuti lagi kompetisi ini, dan jika diperkenankan, aku akan memperoleh Second prize atau bahkan First prize. Insya Allah….

26 Juli 2006

Selamat tinggal, Ukraina. Aku harus kembali melanjutkan hidupku. Ya, di siang hari, kami berangkat ke airport,,, disana kami berpisah dengan pak Nanang dan sopirnya, terima kasih kepada beliau, pak Dubes, dan segenap staf Kedubes yang baik sekali, bahkan ngasi kami cinderamata, aku memperoleh jam tangan kulit yang tidak memerlukan baterai untuk menjalankannya (Keren euy! Trima kasih pak Dubes…). Oya, sebelum ke airport, sempet juga pamitan sama tim Iran (Behrouz dkk), juga sama petugas restorannya. Mereka semua kami beri cinderamata yang kami bawa dari Indonesia, yaitu miniatur wayang golek berupa gantungan kunci, stiker, de-el-el. Dan akhirnya, sekitar pukul 16.00, pesawat Tavrey Airlines pun tinggal landas. Meninggalkan negeri yang baru seminggu kukunjungi, negeri yang memberikanku banyak pengalaman baru… Menuju kota Istambul, yang kali ini hanya kami singgahi airportnya saja (tidak seperti saat keberangkatan). Perjalanan pulang itu terasa begitu singkat… Transit satu jam di Istambul untuk berganti ke pesawat Emirates menuju Dubai pun, kembali terasa begitu singkat….

27 Juli 2006

Tiba di Dubai pukul 03.30 pagi, kami berangkat pukul 06.30 pagi, menuju Jakarta. Kali ini, kami akan transit di Sri Lanka dan Singapura. Tapi di kedua tempat itu, transitnya hanya sebentar. Dan tidak berbeda dengan penerbangan Odessa-Istambul dan Istambul-Dubai, perjalanan Dubai-Colombo, Colombo-Singapura, dan Singapura-Jakarta terasa begitu, begitu singkat. Aku tidak tahu mengapa, tetapi mungkin, karena selama perjalanan, aku merasa sangat bahagia sekaligus sedih, mengenang pengalamanku yang waktunya cukup singkat (hanya sekitar seminggu lebih) namun begitu banyak memberi pelajaran bagiku… Tiba di Jakarta pada malam hari, kami menginap semalam sebelum keesokan harinya, tanggal 28 Juli 2006, saya berangkat ke kampung saya di Pekalongan. Oya, saat tiba di Jakarta, tidak ada penyambutan sama sekali, hanya disambut oleh petugas Depdiknas yang memang bertugas menjemput di bandara. Jauh sekali ya dengan TOFI yang disambut konferensi pers de-el-el? Ya, mungkin karena prestasi kami memang jauh di bawah mereka… Karenanya, tekadku dua hari lalu, semakin kuat… Akhirnya, Ya Allah, aku bersyukur diberi kesempatan-kesempatan perjalanan melintasi berbagai ciptaan-Mu ini, semoga ini bisa membuat hamba-Mu ini menjadi lebih baik…. Dan kepada tanah airku yang kucinta, hanya satu hal yang kupikirkan setelah kembali tiba di Jakarta, yaitu bahwa, Indonesia-ku, ternyata aku mencintaimu.

Sepenggal kisah… 22000 kilometer perjalanan (Part 2)

Thursday, August 10th, 2006

Okey, lanjut ya….. Aku lupa berapa lama tepatnya perjalanan Dubai - Istambul, tapi satu hal yang pasti bahwa aku sempat menonton dua buah film selama perjalanan. Asumsikan bahwa satu film memakan waktu 1 jam 40 menit, maka artinya perjalanan memakan waktu sekitar 3 setengah jam. Dubai - Istambul berbeda waktu satu jam, jadi artinya, Istambul - Jakarta berbeda waktu empat jam.

Hm…. matahari masih terik saat kami tiba di Istambul. Pertama kalinya menginjakkan kaki di Eropa bung! hehehe…. Pas ngeliat keluar dari pesawat, kok sepertinya sama saja ya seperti di Indonesia? ^^ Rerumputan dan pohon2nya tidak asing,,, seperti di kampungku, Karawang - Jawa Barat. Hm,, mungkin karena kami tiba di saat musim panas ya… (Konon kabarnya bulan Juli itu adalah saat2 terpanas bagi sebagian besar wilayah di Eropa). Dan setelah sekitar satu jam melalui pemeriksaan visa, akhirnya kami keluar dari airport, menuju tanah Turki, hehehe…. Wow, masih silau aja tuh matahari! Padahal, ini yang bikin aku kaget, jam setempat sudah menunjukkan sekitar pukul 18.30. Maghrib-nya jam berapa bung? Ternyata kami diberitahu bahwa maghrib di sana sekitar pukul 21.30. Wow,,, pengalaman unik lagi nih bung…. Terus Isyanya? Jam 23.00. Kalau subuh? Ternyata tetap jam 4.30 bung, yang berarti bahwa siang di sana sangat panjang, dan sebaliknya, malam di sana sangat pendek. Oya, Dhuhurnya jam 13.30, Asharnya jam17.00.

Kami diantar oleh tour guide kami menuju hotel tempat kami menginap, karena pesawat Istambul - Odessa baru ada besok sore (Sekarang masih tanggal 18 Juli). Yasudah, berangkatlah kami melewati jalan2 raya Istambul. Kesan pertama selepas dari bandara adalah, kota ini padat, sangat padat seperti Jakarta, tapi perkampungan yang dibuat seperti rumah susun terlihat sedikit lebih rapi dan bersih daripada Jakarta. Dan jalan rayanya bung,,, subhanallah… indah sekali… Tak ada sampah sama sekali, yang ada justru taman bunga yang menghias sepanjang jalan raya. Dan di perempatannya, kami menjumpai air mancur besar, dan disana burung2 (burung albatros kalau tidak salah) masih berkumpulan di sekitarnya, menandakan suasana alam yang masih segar untuk ditinggali.

Tiba di hotel pukul 19.30, kami disambut oleh tour agency yang sudah dihubungi sebelumnya, namanya Mbak Susan. Beliau tuh orang Semarang tapi menikah dengan orang Turki, jadi menetap deh di Turki. Btw, ternyata hotelnya (Namanya All seasons hotel) tuh hotel bintang empat lho! Seneng nih,,, tapi kesenangannya agak sedikit berkurang sih…. karena ternyata kualitas hotelnya bahkan menurutku masih kalah jika dibandingkan dengan hotel bintang tiga di Indonesia. Lha kok bisa? Karena kamarnya, dan juga fasilitas lainnya, sangat sempit bung! Lift-nya saja hanya bisa dimasuki oleh dua orang plus koper. Terus kamarnya juga sempit. Sepertinya sih, memang suasana Istambul yang super padat juga berimbas ke hotelnya nih….

Tidak lama setelah beristirahat, mbak Susan mengajak kami jalan2 plus makan malam. Lumayanlah… nyoba makanan Turki ceritanya^^ Kami naik kendaraan umum yang bentuknya mirip Carry gitu deh, menuju pusat perbelanjaan utama Turki, namanya Taksim. Kendaraannya cukup nyaman, tentunya lebih nyaman dari angkot Bandung, dan keramahan supirnya tak perlu diragukan. Katanya, orang sana sangat menghormati orang lain. Bahkan disana, setiap hari raya Idul Fitri, selama seminggu semua kendaraan umum digratiskan. Wah subhanallah,,, orang2 yang ingin bersilaturahmi sangat terbantu tuh…. Kalau diterapkan di Indonesia mungkin tidak ya? (Hehehe soalnya kan, kalo lebaran, orang2 yang mudik di Indonesia itu jutaan, pasti pemerintah bakal kehabisan dana kalo hal seperti itu diterapkan^^).

Tak banyak yang kami lakukan di Taksim, karena memang tujuan utama kami adalah makan malam. Alhamdulillah ada nasi disana! Hehehe… nasi disana dicampur mentega jadi lebih gurih, begitupun lauk (ada daging, terong) -nya, aromanya sangat keras, khas Timur Tengah. Overall sih enak-enak aja siy….. Dan akhirnya kami kembali ke hotel setelah itu… pada pukul 22.30, dan ternyata memang, pada jam itu, maghrib baru mulai berakhir…

19 Juli 2006
Bangun pukul 05.30, dan ternyata benar, suasananya tidak jauh berbeda dengan suasana saat subuh di Indonesia…. Setelah sholat, mandi, bersiap2, dan makan (Makan paginya super komplit, ada daging, keju, madu, telur, roti, sereal, buah, de-el-el, tapi satu yang kurang, gak ada nasi!!!! Mama, mau nasi goreng T_T), akhirnya kami bersiap untuk menjelajah Turki selama satu hari ini hingga sore hari, sebelum pesawat Istambul - Odessa berangkat. Kemana saja kami hari ini? Dilanjutin nanti ya… istirahat dulu hehehe ^^

(To be continued)

Sepenggal kisah… 22000 kilometer perjalanan (Part 1)

Sunday, August 6th, 2006

Bismilllahirrahmanirrahim….

Bermula tak lama setelah pengumuman tersebut (liat postingan di bawah^^), berangkatlah keempat orang itu (aku, Nanang, Prastudy, sama Rangga) ke Hotel Bintang Griya Wisata, sebuah hotel bintang tiga di Jakarta, untuk mengikuti pemantapan selama 5 hari sebelum berangkat ke Ukraina, negeri berjarak sekitar 10000 kilometer dari Indonesia.

Tak ada yang istimewa dari pemantapannya, selain berat badanku yang bertambah terus setiap hari, gara2 disuguhi gratis makanan hotel setiap hari yang superkomplit lah, dan lagi gak ada aktivitas fisik berat yang kami lakukan, karena selain belajar, ya sholat, makan, dan tidur (Belajar tentunya gak sambil lari2 kan).

17 Juli 2006,,,

Pemantapan selesai, dan kami - keempat orang tadi - berangkat ke Depdiknas untuk dilepas oleh Pak Satrio Sumantri (Direktur Dikti Depdiknas). Kami akan berangkat bersama Ibu Siti (sebagai Team Leader - yang ngurus materi lah intinya) sama Pak Nur (dari Depdiknas - yang ngurus teknis gampangnya). Sampai di bandara habis maghrib, dan ternyata, selama kami menunggu pesawat, kabar yang kudengar tentang Indonesia justru tentang musibah tsunami besar yang menimpa Pangandaran. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun…. Deg! Dalam diriku rasanya jantung ini bergetar. Tidak tau mengapa, tapi perasaan bahwa negeri ini semakin hancur tiba-tiba muncul, dan tidak ada jalan lain, apapun yang bisa kulakukan, harus kulakukan untuk negeri ini. Kontribusi sekecil apapun yang bisa kuberikan, harus kuberikan untuk negeri ini. Karena itu, kutargetkan memperoleh hasil maksimal disana, sebagai kado yang teramat kecil yang bisa kuhasilkan…

Pukul 22.30, pesawat pun tinggal landas. Menuju saat pertama ku mengunjungi negeri lain selain tanah airku, Indonesia. Pesawat Emirates berjenis Boeing 777 - 300 (kalau tidak salah sih^^) -lah yang menemani perjalanan kami. Diberitahu Pak Nur, bahwa Rute perjalanan kami adalah : Jakarta - Singapura - Dubai - Istambul, kemudian berganti pesawat : Istambul - Odessa (kota di Ukraina tempat lomba diadakan). Pesawat itu jauh lebih besar daripada pesawat Garuda yang pernah kunaiki beberapa tahun lalu, menampung lebih dari 500 penumpang, menurut perkiraanku, dan dilengkapi berbagai fasilitas termasuk hiburan (Lumayan, nonton terus selama perjalanan, jadi gak bosen).

Perjalanan Jakarta - Singapura memakan waktu sekitar satu setengah jam, dan disana kami transit sekitar setengah jam. Saat ini sudah tanggal 18 Juli lho,,,,,

Akhirnya aku menginjakkan kaki di luar negeri!! Tapi pernyataan itu langsung kuralat, karena aku hanya menginjakkan kaki di airportnya ^^. Dan perjalanan pun kembali dilanjutkan : Singapura - Dubai. Sekitar 8 jam kurang lebih, dan untuk itu kami menunaikan sholat subuh di pesawat sambil duduk. Sayang, pesawat sebesar itu, milik maskapai muslim pula, tapi tetap saja tidak menyediakan fasilitas mushola… Satu catatan yang membuat maskapai tersebut memiliki nilai minus, menurutku. Anyway, selain itu, selebihnya kuanggap baik. Makanan yang terjamin halal, fasilitas hiburan (TV, film, radio, dll) yang lengkap, beserta fasilitas toilet yang sangat memadai membuat nyaman, meskipun kami di kelas ekonomi.

And finally, kami tiba di Dubai (ibukotanya Emirat Arab) jam 06.30 pagi waktu setempat, atau 09.30 WIB. Kami transit lama sekali, soalnya pesawatnya baru berangkat lagi jam 14.30. Tetapi, karena gak punya visa negara ini, ya sekali lagi kami hanya menginjakkan kaki di airportnya…. Tapi lumayan kok, ngeliat2 airport sini gak bikin bosen, karena banyak yang bisa diliat si ;) Toko2nya banyak, tapi karena belum dikasi uang saku, gak bisa beli oleh2 disini deh…. Banyak juga internet gratis yang bisa dipake lho… Tapi siangnya, Pak Nur langsung ngasi uang saku buat kami, hehehe…. Lumayan gede untuk ukuran kami,,, tapi tetep saja kami memutuskan tidak membeli oleh2 disini, karena selain mahal, Insya Allah kami memiliki kesempatan saat kembali dari Ukraina, jadi sekarang mending konsen ke lombanya dulu aja…. Setuju pak! Oh iya, sambil nunggu, sempet juga makan di McD sini. Yang pasti beda sama McD Indonesia tuh, disini gak ada nasi sama sekali! Ya udah deh pesen burgernya sini… Ternyata burger di Emirat ukurannya lebih dan lebih besar daripada ukuran burger di Indonesia. Empat orang dari kami berenam (4 mahasiswa + 2 pendamping) Tidak mampu langsung menghabiskannya, jadi dibungkus gitu…. Dan seporsinya tuh kalo dirupiahkan kira2 Rp 45000,-… Mahal pisan bung!!

Oh,, yang menarik lagi, kan di sana ada mushola juga (Ya iya, negara Arab gitu, mayoritas muslim), tapi ternyata orang sana tuh kalo wudhu sambil duduk (Jadi ada kaya tempat duduk di depan kerannya). Wah enak juga kupikir…. Tapi pas kucoba, ternyata hasilnya, celanaku basah kuyup, karena kena rembesan air dari tangan…. Wah berarti lebih pintar orang Indonesia dong yang sudah memperhatikan dan memperhitungkan hal ini, jadi kalo wudhu, berdiri aja ^^…. tuh kan keren Indonesia! Gimana gak bangga jadi orang Indonesia, hehehhe….

Gak lama setelah sholat (Sholatnya orang sana kayaknya sama aja kayak orang Indonesia), akhirnya peswat kami berangkat pula. Menuju Istambul, kota yang pernah menjadi pusat kejayaan Islam pada zaman Ottoman dahulu…….

(To be continued)