Amanah yang amat sangat berat…
”Gue kecewa sama
lo, Jrin… Seorang ketua angkatan yang pinter banget dalam bidang matematika,
ngebiarin temen seangkatannya sendiri DO gara-gara gak lulus kalkulus?? Please
deh!!” itulah dampratan temanku padaku beberapa waktu lalu, setelah dipastikan
bahwa temenku yang dimaksud tersebut mengundurkan diri dan pindah kuliah ke
tempat lain. Sontak saja, bagai tersambar petir aku tersadar. ”Aku bukan dewa
penyelamat…” hanya itu jawaban yang bisa kuberikan, karena memang aku tidak
dapat menemukan alasan untuk membantah ucapannya.
Dan sekali lagi
aku tersadar akan peranku, yang selalu mengiringiku ke mana pun aku pergi.
Sebuah beban amat sangat berat yang terus menerus terpasang dalam pundakku,
yang takkan lepas kecuali memang itulah permintaan pihak-pihak yang terlibat.
Pihak itu tak lain adalah mahasiswa Informatika ITB angkatan 2004, dan beban
tersebut tak lain adalah ketua angkatan mereka (mahasiswa Informatika ITB
angkatan 2004).
Sedikit flashback
saja (lengkapnya ada di postingan beberapa bulan lalu), jujur kuakui bahwa,
saat aku terpilih menjadi ketua angkatan sekitar 2 tahun lalu, aku tidak pernah
menyangka bahwa tugasku akan seberat ini. Saat itu, yang ada di dalam pikiranku
adalah, tugas ketua angkatan adalah bagaimana mengatur keadministrasian dan
kelengkapan dalam angkatan, terutama sekali dalam menghadapi osjur (PAB HMIF
2004), yaitu bagaimana agar angkatannya kompak, bisa menyelesaikan tugas-tugas
osjur, dll. Saat osjur selesai (dengan semua peserta dilantik menjadi anggota
biasa HMIF), aku berpikir bahwa tugasku hampir selesai. Ya, suatu pikiran yang
sama sekali salah, karena ternyata aku menyadari bahwajabatan ketua angkatan
lebih merupakan jabatan moral (Kalau sebelumnya aku mengatakan ada dua jabatan,
struktural dan kultural, maka saat ini aku berpikir keduanya lebih cocok
disebut menjadi satu saja, yaitu moral), mengapa, karena tidak ada bentuk
pertanggungjawaban secara tertulis/hukum. Artinya, jika aku melakukan
kesalahan, tidak akan dituntut pidana, mungkin yang terjadi ya dimarahin seangkatan
kali ya ;).
Nah… jabatan
moral ini, ternyata membawa konsekuensi yang jauh lebih luas daripada yang
kubayangkan semula… Yaitu seberapa besar tanggungjawabku terhadap rekan-rekan
seangkatanku?? Banyak hal yang secara jelas menjadi tanggungjawabku, tentunya
dengan bantuan teman-temanku pula, misalnya jika satu angkatan diminta untuk
hadir dalam acara tertentu (misal acara himpunan, mukrab gitu lah), maka
menjadi tugasku untuk mengkoordinir teman-teman, misalnya untuk mengadakan
perembahan angkatan, atau saat angkatanku dipercaya untuk melakukan suatu
tugas, maka menjadi tugasku pula untuk mengkoordinir dan membagi peran kepada
teman2ku, siapa mengurusi apa, dan sebagainya…
Namun,, banyak
hal pula,, yang sulit kusadari,, apakah itu menjadi tanggungjawabku sebagai
ketua angkatan, atau tanggungjawab moralku sebagai teman, atau sama sekali
bukan tanggungjawabku? Contoh mudahnya adalah… Bagaimana jika ada teman yang
kesulitan akademis? Bagaimana jika ada teman yang sakit? Bagaimana jika ada
teman yang membutuhkan bantuan dana? Bagaimana jika ada teman yang memiliki
masalah pribadi dengan teman lainnya? Bagaimana jika ada teman yang ingin beli
hape baru?
(Contoh terakhir jelas bukan tanggungjawabku ya
).
Aku sendiri,
berpendapat bahwa contoh-contoh tadi (selain yang terakhir tentunya), adalah
tanggungjawabku secara personal (moral) sebagai teman, bukan sebagai ketua
angkatan. Namun, karena aku adalah ketua angkatan, maka seyogyanya aku memiliki
kapasitas lebih untuk berperan. Dan menurutku, kapasitas itu bisa berupa ajakan
kepada teman-teman lain untuk menunjukkan tanggungjawab moralnya juga.
Disinilah seharusnya aku menggunakan kapasitas tersebut. Dan disinilah aku bisa
menyatakan bahwa sampai saat ini aku kurang menjalankan amanahku dengan baik
sebagai ketua angkatan, dan bukti sederhananya adalah dampratan temanku tadi.
Seorang ketua angkatan yang baik, menurutku, seharusnya bisa menangani
contoh-contoh masalah tadi dengan baik.
Karena ternyata
banyak teman yang tidak bisa turut kubantu…
Karena ternyata
banyak masalah yang tidak bisa turut kuselesaikan…
Dan kembali ke
jawabanku terhadap temanku di awal tadi, alasan yang bisa kukemukakan adalah,
aku bukan dewa penyelamat. Tentunya tidak semua masalah pasti bisa
kuselesaikan, aku menyadari hal itu sepenuhnya. Pertanyaannya adalah, sudahkah
aku sekadar berusaha untuk turut menyelesaikan masalah-masalah itu?? Sudahkah
aku, misalkan menjumpai dan mengetahui ada teman yang mengalami kesulitan
akademis, menemuinya dan menyatakan ingin membantunya? Sudahkah aku, jika
mengetahui ada teman yang mengalami masalah dana, berusaha (hanya sekadar
berusaha!) mencari jalan keluar? Sudahkah aku peduli (hanya sekadar peduli!)
jika ada teman yang memiliki masalah pribadi?
Kukatakan dengan
tegas bahwa, jawabanku untuk pertanyaan-pertanyaan tadi adalah, tidak
sepenuhnya. Aku memang seringkali bertanya kepada teman-teman,
pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti, ”Apa kabar?”, ”Bagaimana kuliahnya?”,
”Tugas besar sudah selesai dikerjakan?”, ”Kondisimu bagaimana, sehat-sehatkah?”,
”Sekarang sedang sibuk mengurus apa?”, dan hal-hal lain semacam itu. Dan terus
terang, hampir semua jawaban yang kuterima adalah jawaban positif. Tapi aku
seolah-olah kurang peka bahwa ternyata ada sebagian temanku yang merasa sungkan
untuk sekadar mengadu masalahnya kepadaku, sehingga aku sendiri kadang tidak
mengetahui sebagian masalah yang melanda teman-temanku. Kekurangpekaanku ini
mungkin pula disebabkan oleh kesibukanku sendiri mengurus hal-hal lain (Di himpunan,
di kabinet, olimpiade matematika, PPSDMS, dan lain-lain), yang menjadikanku
sering berpikir bahwa, anak IF ITB 2004 sudah dewasa kok… Kekurangpekaanku
dan keengganan sebagian temanku untuk mengungkapkan masalah. Ternyata itulah
kunci permasalahannya… Meskipun hal ini sudah berulang kali kusampaikan
kepada mereka (misalnya pas di forum angkatan, untuk jangan sungkan kepadaku),
ternyata sebagian dari mereka memang tetap merasa sungkan.
Well… aku tidak
dapat menjawab, apa alasan yang membuat mereka sungkan… Dan aku tidak dapat
memaksa mereka untuk menceritakan masalahnya kepadaku, karena mungkin ada
masalah yang menurut mereka memang pribadi, dan mungkin banyak pula yang
merasa, memang aku punya apa dan bisa apa dalam urusan mereka? Kapasitas tadi.
Itu yang kupunya. Dan bila itu tidak cukup, yah… aku tidak mengetahui cara
lain untuk membuat mereka mengemukakan masalah yang mungkin dapat diselesaikan
oleh angkatan. Karena itu, aku harus menyadari, bahwa tugas besarku kini dan
selanjutnya, yaitu pertama, untuk meningkatkan kepekaan dengan lebih proaktif
mencari tahu sendiri masalah yang mungkin sedang melanda teman-teman. Kedua,
untuk lebih dekat dengan berbagai pihak, karena kuyakin banyak dari mereka yang
sungkan kepadaku, tidak sungkan kepada pihak lain. Dengan bantuan pihak
tersebut (bisa berupa teman seangkatan ataupun pihak di luar itu), aku bisa
mendiskusikan masalah2 tadi dan menentukan peran yang bisa kulakukan, dan HARUS
kuusahakan untuk kulakukan.
Teman-temanku
yang membaca tulisan ini, khususnya rekan-rekan Informatika ITB 2004, hanya
satu hal saja yang kuminta, bantulah aku dalam usahaku untuk menyelesaikan
masalah ini. Karena jika tidak, terus terang aku tidak dapat lagi menanggung
amanah ini. Aku, ke depan akan lebih mengusahakan dua hal tadi dalam usahaku
untuk menjalankan amanah sebagai ketua angkatan - yang notabene memiliki peran
jelas yaitu memimpin teman-teman Informatika ITB 2004 selama berkuliah di ITB
(bahkan mungkin sampai kita menjadi alumni?), tapi aku tidak akan bisa apa-apa
tanpa kalian, teman-temanku. Tanpa kalian, sepertinya sudah jelas, aku mundur
sebagai ketua angkatan. Eh, tapi perlu diingat, seperti pernyataanku beberapa
waktu lalu di forum angkatan, bahwa Insya Allah aku tetap bersedia menjadi
ketua angkatan dan berusaha lebih menjalankan tugasnya, jika kalian
teman-temanku memang menginginkannya dan mendukungku.
Aku tidak akan
lari jika kalian tidak menginginkannya, dan salah satunya karena aku memegang
teguh percakapan antara dua orang yang kuanggap hebat sebagai ketua angkatan, keduanya ketua angkatan di salah satu jurusan di ITB angkatan 2003, yang juga menjabat sebagai petinggi di kepanitiaan OSKM ITB 2005 (Terjadi sekitar satu tahun lalu, saat diklat panitia OSKM 2005) :
X : Gue mau berhenti jadi ketua
angkatan!
Y : Kenapa?
X : Temen seangkatan gue, 7 orang
(Eh 7 atau berapa ya? lupa ^^ ) mau di-DO dan gue gak bisa bantu
apa-apa.
Y :
Terus kenapa lo mau mundur?
X : Ya gue malu
lah, gue gak bisa ngapa-ngapain sebagai ketua angkatan mereka.
Y : Ya okelah lo ada tanggungjawab
ke angkatan lo. Tapi bukan mundur caranya. Caranya yang bener ya dari sekarang, lo
berusaha sungguh-sungguh, biar ke depannya gak ada lagi angkatan lo yang di-DO!
Dan Insya Allah,
itu yang akan kulakukan, tapi sekali lagi, hanya dengan dukungan kalian semua,
teman-teman mahasiswa Informatika ITB angkatan 2004, yang kucintai dan
kubanggakan.
August 25th, 2006 at 2:24 am
Yang penting lo udah berbuat yang terbaik, jrin. Minimal, dengan jadi TELADAN buat IF2004 dan peduli dengan temen-temen yang lain. Jadi, jangan merasa bersalah. Kita ini mahasiswa, yang seharusnya sudah DEWASA, termasuk mereka yang bermasalah dalam hal akademik.
Untuk hal-hal non akademik, gw rasa tanggung jawab moralmu itu membawa masalah itu (*memberitahukannya*) ke forum 2004. Itu kan tanggung jawab moral bersama
* eh.. gw ngetik apaan sih … kok serius bener *
August 25th, 2006 at 3:29 am
nobody’s perfect lah.
you’ve done a great job. just keep up the good work.
btw, wakil ketua angkatan sekarang sapa aja sih?
August 25th, 2006 at 3:40 am
@anggri : usul bagus! Forum angkatan yukss…
@dendy : gubrak… pasti gak dateng forum angkatan terakhir :p wakilku tuh si Yovan sama Ibi, catet….. ^^
August 25th, 2006 at 3:47 am
Wow.. tulisanmu selalu sangat panjang jrin..
Tapi ya, kalo gw bilang sih, itu gak sepenuhnya salah si ketua angkatan.
Mahasiswa adalah masa di mana seseorang belajar menjadi dewasa. Untuk mau belajar, mau bekerja keras.
Kalo temen lo itu udah kerja keras dan berjuang untuk mendapatkan kelulusan, dan lo tau dan malah nggak ngebantu, ya bener mungkin lo bisa dianggap bersalah.
Tapi kalo dia nggak pernah belajar sama sekali, kerjanya males2an, gak pernah minta tolong, dan lo nggak tau. terus nggak lulus, akhirnya DO.. Ya emang pantes lah. Lo nggak salah menurut gw. Semua itu hukum alam, kita menanam buat menuai. Buat apa kita harus memperjuangkan orang-orang yang cengeng dan tidak pernah berjuang untuk dirinya? Dia nggak pernah berusaha untuk menanam. Mana bisa menuai? Dan gw banyak mendapati teman-teman gw yang keluar atau sering nggak lulus disebabkan kejadian yang kedua, bukan yang pertama.
Jadi.. tetep semangat ya Jrin!
August 28th, 2006 at 6:47 pm
klo menurut gw gak semua kata-kata orang harus selalu diterima harus disaring baik-baik dulu…di cek n riceklah…kesalahannya dimana…
hal terbaik yang perlu lu lakuin sekarang itu seperti kata2nta ketua ank. MS03 ini hehehhe
“Ya okelah lo ada tanggungjawab ke angkatan lo. Tapi bukan mundur caranya. Caranya yang bener ya dari sekarang, lo berusaha sungguh-sungguh, biar ke depannya gak ada lagi angkatan lo yang di-DO!”
melakukan kesalahan itu lumrah sebagai manusia tapi kalau larut dalam kesalahan itu gak bgt deh…..he chayo…fajrin…
August 28th, 2006 at 8:29 pm
@bram : hehehe.. Insya Allah tetep semangat!!
@fitra : Woi nyebut nama woi (padahal udah disensor), terus salah pula^^… bukan MS03, tapi … (rahasia, tapi angkatan 2003 lah). Tapi tetep, setuju dengan sarannya,,,
August 29th, 2006 at 2:19 am
YOOOOOOOW….
gmana sih lu jin??
kok gitu aja ga bisa ngurusinnya…
pasti kira2 begitu yang terngiang di benaknya farjin…
udah jin.. kmu nyante aja…
(eh.. nyante disini bukan makna denotasi yaaa)
kmu udah do the best lah pokoknya buat 2004…
seumur2, aq baru kali ini dapet ketua angkatan yang keren!!
dan kalopun mau dibandingin..
selama sepengetahuanku..
ga ada bandingannya deh…
kmu tuh beda banget…
udah keriting.. gendut.. kribo.. dll… (eh.. apaan ni??)
he he… yups..
makasih ya jin atas kepeduliannya tuk 2004 IF tercinta…
YOSH… ITTADAKIMAAASU….
August 29th, 2006 at 5:33 am
jrin, hanya mengedit hasil YMan tadi
saya sendiri baru tau pas udah mau di DO
kaget juga
soalnya tau dari siapa coba?
dari simon 03
yang tiba2 nanya
“eh, emang 2004 ada yang mau di DO ya?”
“ha? perasaan engga deh..”
trus
beberapa menit kemudian
simon 04 tiba2 dateng
langsung ngomong
“eh si xxx kan mau d DO”
“ha? serius lo?”
“iya…kata bu masayu.”
“emang knapa?”
“ga tau…katanya sih ga lulus tpb gitu”
nah…
emang sih saya ga peka
bukan ga peka,
kurang peka
kadang yang kita perhatiin tuh
‘cuma’ orang-orang yang jadi temen main kita doang,
orang-orang di ‘luar’ itu
ga kta perhatiin
hal seperti itu sebenernya terjadi dimana-mana
emang sifat manusia kayak gitu kali ya?
tapi
dengan kasus kayak gini
harusnya kita (saya) bisa lebih mengenal teman-teman di ‘luar’ lingkungan kita
tapi (lagi)
kalo mau saling mengenal pasti bentrokannya itu di hal ‘nyambung-engga nyambung’, dia ‘visible-invisible’
tapi(lagi-lagi)
at least, kita usaha…
September 13th, 2006 at 10:31 pm
Kami semua sayng fajriiin…!!
Huheheee, best ketua angkatan ever lah pokoke..Kalo ada jurusan apa angkatan brapa mo tanding..Ayok sini, lawan Biggy Bear kebanggaan IF’04! Hehee..
Btw, hepi aniv ya..
~[sil]
September 24th, 2006 at 12:38 pm
Lha.. Kalo gitu apa gunanya temen” di sekitar orang yang mau DO itu?… Kalo emang mau maen salah”an, yang pertama, anak itu yang salah, soalnya udah gde, udah bisa bedain yang mana yang baik dan yang buruk… Bukan kamu… Yang kedua, apa gunanya temen” yang sering duduk disamping dia, sering maen sama dia, sering makan sama dia, sering jalan sama dia?… Dia kemana” pasti punya temen kan?… Ketua angkatan kan ga mungkin ngurusin 160 orang, nanyain satu” kabar mereka, nilai mereka, kehidupan sehari” mereka, dll… Itu kalo mau maen salah”an… Intinya balik ke pribadi masing”…
Gw rasa, buat 2004, lo tetep ketua angkatan yang terbaik kok jrin!!!…