Sepenggal kisah… 22000 kilometer perjalanan (Part 1)

Bismilllahirrahmanirrahim….

Bermula tak lama setelah pengumuman tersebut (liat postingan di bawah^^), berangkatlah keempat orang itu (aku, Nanang, Prastudy, sama Rangga) ke Hotel Bintang Griya Wisata, sebuah hotel bintang tiga di Jakarta, untuk mengikuti pemantapan selama 5 hari sebelum berangkat ke Ukraina, negeri berjarak sekitar 10000 kilometer dari Indonesia.

Tak ada yang istimewa dari pemantapannya, selain berat badanku yang bertambah terus setiap hari, gara2 disuguhi gratis makanan hotel setiap hari yang superkomplit lah, dan lagi gak ada aktivitas fisik berat yang kami lakukan, karena selain belajar, ya sholat, makan, dan tidur (Belajar tentunya gak sambil lari2 kan).

17 Juli 2006,,,

Pemantapan selesai, dan kami - keempat orang tadi - berangkat ke Depdiknas untuk dilepas oleh Pak Satrio Sumantri (Direktur Dikti Depdiknas). Kami akan berangkat bersama Ibu Siti (sebagai Team Leader - yang ngurus materi lah intinya) sama Pak Nur (dari Depdiknas - yang ngurus teknis gampangnya). Sampai di bandara habis maghrib, dan ternyata, selama kami menunggu pesawat, kabar yang kudengar tentang Indonesia justru tentang musibah tsunami besar yang menimpa Pangandaran. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun…. Deg! Dalam diriku rasanya jantung ini bergetar. Tidak tau mengapa, tapi perasaan bahwa negeri ini semakin hancur tiba-tiba muncul, dan tidak ada jalan lain, apapun yang bisa kulakukan, harus kulakukan untuk negeri ini. Kontribusi sekecil apapun yang bisa kuberikan, harus kuberikan untuk negeri ini. Karena itu, kutargetkan memperoleh hasil maksimal disana, sebagai kado yang teramat kecil yang bisa kuhasilkan…

Pukul 22.30, pesawat pun tinggal landas. Menuju saat pertama ku mengunjungi negeri lain selain tanah airku, Indonesia. Pesawat Emirates berjenis Boeing 777 - 300 (kalau tidak salah sih^^) -lah yang menemani perjalanan kami. Diberitahu Pak Nur, bahwa Rute perjalanan kami adalah : Jakarta - Singapura - Dubai - Istambul, kemudian berganti pesawat : Istambul - Odessa (kota di Ukraina tempat lomba diadakan). Pesawat itu jauh lebih besar daripada pesawat Garuda yang pernah kunaiki beberapa tahun lalu, menampung lebih dari 500 penumpang, menurut perkiraanku, dan dilengkapi berbagai fasilitas termasuk hiburan (Lumayan, nonton terus selama perjalanan, jadi gak bosen).

Perjalanan Jakarta - Singapura memakan waktu sekitar satu setengah jam, dan disana kami transit sekitar setengah jam. Saat ini sudah tanggal 18 Juli lho,,,,,

Akhirnya aku menginjakkan kaki di luar negeri!! Tapi pernyataan itu langsung kuralat, karena aku hanya menginjakkan kaki di airportnya ^^. Dan perjalanan pun kembali dilanjutkan : Singapura - Dubai. Sekitar 8 jam kurang lebih, dan untuk itu kami menunaikan sholat subuh di pesawat sambil duduk. Sayang, pesawat sebesar itu, milik maskapai muslim pula, tapi tetap saja tidak menyediakan fasilitas mushola… Satu catatan yang membuat maskapai tersebut memiliki nilai minus, menurutku. Anyway, selain itu, selebihnya kuanggap baik. Makanan yang terjamin halal, fasilitas hiburan (TV, film, radio, dll) yang lengkap, beserta fasilitas toilet yang sangat memadai membuat nyaman, meskipun kami di kelas ekonomi.

And finally, kami tiba di Dubai (ibukotanya Emirat Arab) jam 06.30 pagi waktu setempat, atau 09.30 WIB. Kami transit lama sekali, soalnya pesawatnya baru berangkat lagi jam 14.30. Tetapi, karena gak punya visa negara ini, ya sekali lagi kami hanya menginjakkan kaki di airportnya…. Tapi lumayan kok, ngeliat2 airport sini gak bikin bosen, karena banyak yang bisa diliat si ;) Toko2nya banyak, tapi karena belum dikasi uang saku, gak bisa beli oleh2 disini deh…. Banyak juga internet gratis yang bisa dipake lho… Tapi siangnya, Pak Nur langsung ngasi uang saku buat kami, hehehe…. Lumayan gede untuk ukuran kami,,, tapi tetep saja kami memutuskan tidak membeli oleh2 disini, karena selain mahal, Insya Allah kami memiliki kesempatan saat kembali dari Ukraina, jadi sekarang mending konsen ke lombanya dulu aja…. Setuju pak! Oh iya, sambil nunggu, sempet juga makan di McD sini. Yang pasti beda sama McD Indonesia tuh, disini gak ada nasi sama sekali! Ya udah deh pesen burgernya sini… Ternyata burger di Emirat ukurannya lebih dan lebih besar daripada ukuran burger di Indonesia. Empat orang dari kami berenam (4 mahasiswa + 2 pendamping) Tidak mampu langsung menghabiskannya, jadi dibungkus gitu…. Dan seporsinya tuh kalo dirupiahkan kira2 Rp 45000,-… Mahal pisan bung!!

Oh,, yang menarik lagi, kan di sana ada mushola juga (Ya iya, negara Arab gitu, mayoritas muslim), tapi ternyata orang sana tuh kalo wudhu sambil duduk (Jadi ada kaya tempat duduk di depan kerannya). Wah enak juga kupikir…. Tapi pas kucoba, ternyata hasilnya, celanaku basah kuyup, karena kena rembesan air dari tangan…. Wah berarti lebih pintar orang Indonesia dong yang sudah memperhatikan dan memperhitungkan hal ini, jadi kalo wudhu, berdiri aja ^^…. tuh kan keren Indonesia! Gimana gak bangga jadi orang Indonesia, hehehhe….

Gak lama setelah sholat (Sholatnya orang sana kayaknya sama aja kayak orang Indonesia), akhirnya peswat kami berangkat pula. Menuju Istambul, kota yang pernah menjadi pusat kejayaan Islam pada zaman Ottoman dahulu…….

(To be continued)

5 Responses to “Sepenggal kisah… 22000 kilometer perjalanan (Part 1)”

  1. dende Says:

    gile, fajrin ke luar negeri cing.

    gudlak ya jrin.
    we proud of you…

  2. Stevens Says:

    jrin jangan lupa oleh2 yah. gw doain dah biar menang.hahaha

  3. Anggriawan Says:

    sambungan ceritanya ditunggu loh ;)

  4. echa Says:

    lanjut jriiiin…

  5. RaniJapraLafra Says:

    ih, pesawatnya sama!
    cuma kl gw sih dr dubai engga ke istambul :P
    kl kata gw sih, makanan di pesawat ga enak, ya ga?

Leave a Reply