OSKM ITB 2006 - Kekaguman dan Kekesalan
“Dengan ini, saya menutup maharaya OSKM 2006”, ujar Zamzam
Badru Zaman, NIM 10203001, mahasiswa Fisika ITB 2003, sekaligus ketua OSKM ITB
2006. Dan tak lama setelah itu,
arak-arakan mahasiswa baru, dari jalan Gelap Nyawang menuju kampus pun
dilakukan. Hal ini merupakan bentuk penghargaaan mahasiswa lama terhadap
mahasiswa baru yang, meskipun ditekan oleh kekuasaan rektorat, tetap berani
untuk mengikuti OSKM ITB 2006.
Dan salut luar
biasa saya ucapkan kepada dua pihak, yaitu panitia dan peserta OSKM ITB 2006,
yang tetap gigih memperjuangkan idealismenya, tetap bersatu menghadapi ancaman
apapun dari rektorat. Aku tidak banyak berkontribusi dalam OSKM kali ini,
karena ada tugas lain, amanah lain yang harus kulakukan. Namun, setelah amanah
itu selesai, aku berusaha mencari tahu tentang OSKM dan membantu apapun yang
bisa kulakukan untuk OSKM kali ini. Dan akhirnya, pada akhir minggu kedua Agustus
aku pun tahu, bahwa rektorat benar-benar meng-ilegal-kan OSKM kali ini -
keputusan yang sangat mengherankan, sebab sebelumnya mereka mendukung OSKM
bahkan memberikan panitia OSKM sebuah sekre yang besar di gedung CC. Bentuk
pengilegalan itu dilakukan dengan memberikan sanksi akademis terhadap kedua
pihak, yaitu panitia dan peserta. Sanksi tersebut belakangan diketahui berupa
”peninjauan status kemahasiswaan” terhadap peserta OSKM, belum tahu bagaiman
dengan panitianya.
Saya pribadi
sangat menyesalkan keputusan rektoral yang meng-ilegalkan OSKM kali ini karena
keputusan tersebut dilakukan secara sangat sepihak. Maksudnya, rektorat bahkan
tidak mengetahui isi OSKM kali ini, karena tidak pernah (atau mungkin sangat
sedikit) ada kesempatan dialog antara panitia OSKM dan rektorat. Dalam benak
rektorat, segala yang berbau OS dan kaderisasi adalah hal yang buruk yang tidak
sesuai dengan misi ITB untuk menjadi research university dan bla bla bla… Don’t
say even a word if you don’t know it! OSKM dalam beberapa tahun terakhir adalah
suatu kegiatan yang sangat positif, terbukti dengan banyaknya tanggapan positif
dari berbagai pihak yang terlibat di dalamnya (sebagian besar peserta, tokoh nasional
yang mengisi acara, rektorat sebelumnya, dan lain-lain). Yang dilakukan dalam
OSKM kali ini pun menurut saya tidak jauh berbeda dengan OSKM-OSKM sebelumnya,
yang banyak membawa hal positif, seperti pemberian materi tentang kemahasiswaan
dan kebangsaan, semangat berkontribusi kepada masyarakat dalam bentuk bakti
sosial, lingkar wacana, interaksi untuk lebih saling mengenal dan berbaur
antarpeserta, dan lain-lain. Sedemikian
burukkah acara seperti itu, hingga orang yang melakukan hal-hal itu akan
“ditinjau status kemahasiswaan”nya? Kita ini kaum intelektual bung… baik
kami, mahasiswa, maupun Anda, rektorat. Sekali lagi, saya amat sangat
menyesalkan tidak adanya kesempatan untuk menunjukkan semangat kemahasiswaan
kami.
Namun panitia
tidak menyerah, luar biasa! Mereka tetap berencana mengadakan OSKM pada tanggal
20-21 Agustus 2006. Keputusan ini didukung oleh semua elemen kampus
(Himpunan-himpunan dan unit-unit), yang pada intinya menyatakan mendukung OSKM
kali ini dan bersama-sama berjuang untuk mewujudkannya. Pada tanggal 16 Agustus,
pada acara sidang penyambutan mahasiswa baru oleh rektorat di Sabuga, panitia
melakukan ’penyambutan’ di depan gedung tersebut, dalam bentuk berbaris di
depannya, mengobarkan semangat teman-teman mahasiswa baru dengan menyanyikan
lagu-lagu kampus, salam ganesha, dan orasi kemahasiswaan. Tidak ada intimidasi,
saya tekankan sekali lagi, tak ada intimidasi. Karena kali ini, saya bersama
teman-teman himpunan lainnya ikut hadir di sana, sebagai pengawas dan pemberi
semangat kepada panitia OSKM, untuk mengingatkan panitia OSKM bahwa mereka
tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini. Ada kami, segenap elemen kampus
yang terdiri atas himpunan, unit, dan lain-lain, yang siap membantu dan
mendukung.
Pada tanggal 19,
sehari sebelum OSKM dimulai, saya sempat berpikir bahwa OSKM esok hari dan lusa
(tanggal 20-21) akan berlangsung lancar-lancar saja, dengan banyak peserta yang
mengikutinya. Namun, gaan saya tersebut langsung termentahkan karena, pertama,
rektorat benar-benar mengeluarkan sanksi DO kepada mahasiswa baru yang terbukti
mengikuti OSKM. Ancaman serupa, saya pikir, juga akan diberikan kepada panitia.
Hal kedua, ini yang benar-benar mengejutkan, rektorat akan memanggil brimob
untuk mengamankan kampus dari acara OSKM! Seriuskah rektorat?? Aku tidak tahu,
tapi Ketua himpunanku (HMIF), Budiono, meminta aku dan kawan2 DPP HMIF (lembaga
legislatif di HMIF) yang kukoordinir untuk hadir tanggal 20 Agustus jam 6 pagi,
untuk mengamankan OSKM dari brimob, yaitu dengan bersama-sama elemen kampus
lainnya menjadi barikade.
Luar biasa,
sekali lagi, luar biasa! Belum pernah kusaksikan langsung selama aku di ITB,
pertentangan antara rektorat antara mahasiswa hingga setajam ini. Pukul 06.00,
saya dan beberapa teman2 HMIF sudah tiba di lokasi Plaza Widya ITB, tempat akan
dilaksanakan OSKM. Semakin waktu berjalan, teman2 elemen massa kampus semakin
banyak yang hadir di sana. Tampak panitia OSKM sudah memenuhi Plaza Widya -
ratusan orang taplok berbaju oranye, ratusan panitia keamanan berbaju merah,
dan puluhan medis berbaju hijau, beserta segenap panitia OSKM lainnya. Tetapi
yang kupertanyakan… dimana pesertanya?? Dan dimana brimob yang
digembar-gemborkan?? Baru kusadari bahwa puluhan orang berbaju bebas yang ada
di sebelah utara Plaza Widya bukanlah panitia ataupun elemen kampus, melainkan
peserta. Dalam hatiku, aku kecewa… Hanya sesedikit itukah peserta yang
datang? (Tidak sampai 10% dari total mahasiswa baru!)… Namun aku tersadar pula,
seharusnya aku tidak kecewa, tapi kagum luar biasa kepada mereka, puluhan orang
mahasiswa baru itu, yang berani menghadapi ancaman DO rektorat demi mengikuti
apa yang sudah elemen kampus perjuangkan… Puluhan orang yang lebih memilih
untuk bersama-sama mahasiswa untuk bergerak, demi kontribusi yang memang selama
ini selalu dinantikan rakyat… Puluhan orang yang sengaja diminta untuk
berbaju bebas (tidak lagi berseragam SMA) untuk melepaskan diri dari satpam
kampus.
Pukul 07.00 OSKM
dibuka, dengan orasi biasa. Dan akhirnya OSKM berjalan lancar-lancar saja,
setelah kami memperoleh kepastian bahwa, brimob menolak permintaan rektorat
untuk mengamankan kampus, karena menurut mereka, sama sekali tidak ada alasan
jelas untuk mengamankan kampus dari mahasiswa (I’m proud of you, brimob!!).
OSKM hari itu selesai menjelang Dhuhur, dan tidak ada masalah berarti yang
kulihat pada hari ini…
21 Agustus 2006,
saya dan teman-teman kembali hadir di kampus pukul 06.00. Saya datang dengan
membonceng teman seasrama, Nanto - IF 2005 (alias Zen bohongan :p habis mirip
banget dia sama si Zen, anak IF 2004). Semula kukira acara kali ini pun akan
berlangsung lancar. Namun sekali lagi, perkiraan itu meleset begitu kami hendak
memasuki gerbang depan ITB - gerbang ganesha. Gerbang ditutup total! Tidak ada
satupun kendaraan yang diperbolehkan masuk - mahasiswa, dosen, atau siapapun.
”Ini perintah atasan” demikian kata satpam. Perintah?? Dalam rangka apa??
Bukankah gerbang seharusnya justru dibuka pada hari libur? Usaha lain rektorat
untuk menghadang OSKM, demikian pikirku. Tidak akan berhasil, pikirku kembali.
Aku masuk kampus dengan berjalan kaki, tapi ternyata suasana di dalam sangat
amat sepi. Kemana orang-orang? 06.20, jam di gerbang depan menunjukkan waktu
tersebut. Dan SMS dari Budiono segera menjawab pertanyaanku, yaitu bahwa OSKM
dilaksanakan di Taman Ganesha, di seberang gerbang depan ITB.
Sekali lagi,
sedemikian parah dan buruknyakah acara ini, hingga kami terusir dari rumah kami
sendiri dan terpaksa melakukan OSKM di Taman Ganesha?? Anyway, sekali lagi
salut kepada panitia dan peserta. Panitia yang tetap bersemangat dalam OSKM
hari ini, dan peserta yang jumlahnya semakin banyak dibandingkan kemarin -
belakangan kuketahui kalau jumlah peserta yang hadir mencapai 135 orang (Informatika
banget, hehehe). Dilaksanakan di taman Ganesha, OSKM tetap menarik menurut
pandanganku (Gak boleh deket2 sih sama panitia keamanannya, hehe). Namun, aksi
penutupan kampus ini benar-benar keterlaluan menurutku, dan ternyata juga
menurut pandangan hampir semua elemen kampus. Oleh karena itu, semua elemen
kampus bersepakat untuk berorasi di depan gerbang ganesha - yang kini dipenuhi
oleh kendaraan yang diparkir disana karena tidak boleh masuk. Aksi orasi ini
dilakukan untuk menunjukkan kepada masyarakat, bahwa OSKM bukanlah acara
perpeloncoan, melainkan acara positif untuk memberi transfer nilai2 kebangsaan,
kemahasiswaan, dan semangat berkontribusi. Untuk menunjukkannya pun, setelah
orasi tersebut, rencananya semua elemen kampus, beserta panitia dan peserta
OSKM, akan terjun langsung ke masyarakat melakukan bakti sosial dalam bentuk
bersih-bersih lingkungan.
Orasi berlangsung
pukul 10.00-12.00, dilakukan oleh semua ketua himpunan yang hadir (ada 20-an),
presiden KM ITB, dan ketua kongres KM ITB. Lebih dari 500 orang hadir dalam
orasi tsb. Orasi ini dihadiri oleh beberapa media massa nasional (Esoknya pun,
teman2 bilang kalau kami masuk berita di Trans TV, dan aku juga kesorot katanya
hehehe - pun berita ini ada di Kompas edisi 22 Agustus 2006). Cukup memberikan
hentakan kepada masyarakat, menurutku. Bahwa tindakan rektorat dalam menutup
gerbang ini sama sekali tidak beralasan. Bahwa pengusiran kami dari kampus pun
tidak beralasan sama sekali.
Badha dhuhur,
kegiatan bersih-bersih dimulai, dan kami HMIF kebagian membersihkan wilayah
Kebon Kembang - deket Pasoepati. Dan akhirnya, badha Ashar, sekitar pukul
16.00an, peserta mulai dikondisikan, dan sekitar pukul 17.00, OSKM ITB 2006
ditutup, dilaksanakan di Jalan Gelap Nyawang - seberang Taman Ganesha, sebagaimana
diterangkan di awal.
Selesai? Tidak,
karena ternyata ancaman DO terhadap Zamzam (ketua OSKM) dan Dwi (presiden KM
IT) benar-benar nyata. Dan hingga kini, tim advokasi masih mengusahakan
perundingan dengan rektorat. Semoga, semoga, dan semoga semua yang sudah
diperjuangkan selama OSKM ini, tidak justru berujung pada hal tersebut. Karena
jika ya, aku tidak dapat membayangkan pertentangan yang lebih dalam lagi antara
rektorat dengan mahasiswa… Dua elemen yang seharusnya bisa saling bersinergi
demi mewujudkan tridarma perguruan tinggi.
Bagaimana OSKM
ITB 2006 ini menurut Anda? Kekaguman (terhadap panitia dan peserta) dan
kekesalan (terhadap rektorat), itulah yang jujur saya rasakan.