Sepenggal kisah… 22000 kilometer perjalanan (Part 2)

August 10th, 2006 by mfrasyid1

Okey, lanjut ya….. Aku lupa berapa lama tepatnya perjalanan Dubai - Istambul, tapi satu hal yang pasti bahwa aku sempat menonton dua buah film selama perjalanan. Asumsikan bahwa satu film memakan waktu 1 jam 40 menit, maka artinya perjalanan memakan waktu sekitar 3 setengah jam. Dubai - Istambul berbeda waktu satu jam, jadi artinya, Istambul - Jakarta berbeda waktu empat jam.

Hm…. matahari masih terik saat kami tiba di Istambul. Pertama kalinya menginjakkan kaki di Eropa bung! hehehe…. Pas ngeliat keluar dari pesawat, kok sepertinya sama saja ya seperti di Indonesia? ^^ Rerumputan dan pohon2nya tidak asing,,, seperti di kampungku, Karawang - Jawa Barat. Hm,, mungkin karena kami tiba di saat musim panas ya… (Konon kabarnya bulan Juli itu adalah saat2 terpanas bagi sebagian besar wilayah di Eropa). Dan setelah sekitar satu jam melalui pemeriksaan visa, akhirnya kami keluar dari airport, menuju tanah Turki, hehehe…. Wow, masih silau aja tuh matahari! Padahal, ini yang bikin aku kaget, jam setempat sudah menunjukkan sekitar pukul 18.30. Maghrib-nya jam berapa bung? Ternyata kami diberitahu bahwa maghrib di sana sekitar pukul 21.30. Wow,,, pengalaman unik lagi nih bung…. Terus Isyanya? Jam 23.00. Kalau subuh? Ternyata tetap jam 4.30 bung, yang berarti bahwa siang di sana sangat panjang, dan sebaliknya, malam di sana sangat pendek. Oya, Dhuhurnya jam 13.30, Asharnya jam17.00.

Kami diantar oleh tour guide kami menuju hotel tempat kami menginap, karena pesawat Istambul - Odessa baru ada besok sore (Sekarang masih tanggal 18 Juli). Yasudah, berangkatlah kami melewati jalan2 raya Istambul. Kesan pertama selepas dari bandara adalah, kota ini padat, sangat padat seperti Jakarta, tapi perkampungan yang dibuat seperti rumah susun terlihat sedikit lebih rapi dan bersih daripada Jakarta. Dan jalan rayanya bung,,, subhanallah… indah sekali… Tak ada sampah sama sekali, yang ada justru taman bunga yang menghias sepanjang jalan raya. Dan di perempatannya, kami menjumpai air mancur besar, dan disana burung2 (burung albatros kalau tidak salah) masih berkumpulan di sekitarnya, menandakan suasana alam yang masih segar untuk ditinggali.

Tiba di hotel pukul 19.30, kami disambut oleh tour agency yang sudah dihubungi sebelumnya, namanya Mbak Susan. Beliau tuh orang Semarang tapi menikah dengan orang Turki, jadi menetap deh di Turki. Btw, ternyata hotelnya (Namanya All seasons hotel) tuh hotel bintang empat lho! Seneng nih,,, tapi kesenangannya agak sedikit berkurang sih…. karena ternyata kualitas hotelnya bahkan menurutku masih kalah jika dibandingkan dengan hotel bintang tiga di Indonesia. Lha kok bisa? Karena kamarnya, dan juga fasilitas lainnya, sangat sempit bung! Lift-nya saja hanya bisa dimasuki oleh dua orang plus koper. Terus kamarnya juga sempit. Sepertinya sih, memang suasana Istambul yang super padat juga berimbas ke hotelnya nih….

Tidak lama setelah beristirahat, mbak Susan mengajak kami jalan2 plus makan malam. Lumayanlah… nyoba makanan Turki ceritanya^^ Kami naik kendaraan umum yang bentuknya mirip Carry gitu deh, menuju pusat perbelanjaan utama Turki, namanya Taksim. Kendaraannya cukup nyaman, tentunya lebih nyaman dari angkot Bandung, dan keramahan supirnya tak perlu diragukan. Katanya, orang sana sangat menghormati orang lain. Bahkan disana, setiap hari raya Idul Fitri, selama seminggu semua kendaraan umum digratiskan. Wah subhanallah,,, orang2 yang ingin bersilaturahmi sangat terbantu tuh…. Kalau diterapkan di Indonesia mungkin tidak ya? (Hehehe soalnya kan, kalo lebaran, orang2 yang mudik di Indonesia itu jutaan, pasti pemerintah bakal kehabisan dana kalo hal seperti itu diterapkan^^).

Tak banyak yang kami lakukan di Taksim, karena memang tujuan utama kami adalah makan malam. Alhamdulillah ada nasi disana! Hehehe… nasi disana dicampur mentega jadi lebih gurih, begitupun lauk (ada daging, terong) -nya, aromanya sangat keras, khas Timur Tengah. Overall sih enak-enak aja siy….. Dan akhirnya kami kembali ke hotel setelah itu… pada pukul 22.30, dan ternyata memang, pada jam itu, maghrib baru mulai berakhir…

19 Juli 2006
Bangun pukul 05.30, dan ternyata benar, suasananya tidak jauh berbeda dengan suasana saat subuh di Indonesia…. Setelah sholat, mandi, bersiap2, dan makan (Makan paginya super komplit, ada daging, keju, madu, telur, roti, sereal, buah, de-el-el, tapi satu yang kurang, gak ada nasi!!!! Mama, mau nasi goreng T_T), akhirnya kami bersiap untuk menjelajah Turki selama satu hari ini hingga sore hari, sebelum pesawat Istambul - Odessa berangkat. Kemana saja kami hari ini? Dilanjutin nanti ya… istirahat dulu hehehe ^^

(To be continued)

Sepenggal kisah… 22000 kilometer perjalanan (Part 1)

August 6th, 2006 by mfrasyid1

Bismilllahirrahmanirrahim….

Bermula tak lama setelah pengumuman tersebut (liat postingan di bawah^^), berangkatlah keempat orang itu (aku, Nanang, Prastudy, sama Rangga) ke Hotel Bintang Griya Wisata, sebuah hotel bintang tiga di Jakarta, untuk mengikuti pemantapan selama 5 hari sebelum berangkat ke Ukraina, negeri berjarak sekitar 10000 kilometer dari Indonesia.

Tak ada yang istimewa dari pemantapannya, selain berat badanku yang bertambah terus setiap hari, gara2 disuguhi gratis makanan hotel setiap hari yang superkomplit lah, dan lagi gak ada aktivitas fisik berat yang kami lakukan, karena selain belajar, ya sholat, makan, dan tidur (Belajar tentunya gak sambil lari2 kan).

17 Juli 2006,,,

Pemantapan selesai, dan kami - keempat orang tadi - berangkat ke Depdiknas untuk dilepas oleh Pak Satrio Sumantri (Direktur Dikti Depdiknas). Kami akan berangkat bersama Ibu Siti (sebagai Team Leader - yang ngurus materi lah intinya) sama Pak Nur (dari Depdiknas - yang ngurus teknis gampangnya). Sampai di bandara habis maghrib, dan ternyata, selama kami menunggu pesawat, kabar yang kudengar tentang Indonesia justru tentang musibah tsunami besar yang menimpa Pangandaran. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun…. Deg! Dalam diriku rasanya jantung ini bergetar. Tidak tau mengapa, tapi perasaan bahwa negeri ini semakin hancur tiba-tiba muncul, dan tidak ada jalan lain, apapun yang bisa kulakukan, harus kulakukan untuk negeri ini. Kontribusi sekecil apapun yang bisa kuberikan, harus kuberikan untuk negeri ini. Karena itu, kutargetkan memperoleh hasil maksimal disana, sebagai kado yang teramat kecil yang bisa kuhasilkan…

Pukul 22.30, pesawat pun tinggal landas. Menuju saat pertama ku mengunjungi negeri lain selain tanah airku, Indonesia. Pesawat Emirates berjenis Boeing 777 - 300 (kalau tidak salah sih^^) -lah yang menemani perjalanan kami. Diberitahu Pak Nur, bahwa Rute perjalanan kami adalah : Jakarta - Singapura - Dubai - Istambul, kemudian berganti pesawat : Istambul - Odessa (kota di Ukraina tempat lomba diadakan). Pesawat itu jauh lebih besar daripada pesawat Garuda yang pernah kunaiki beberapa tahun lalu, menampung lebih dari 500 penumpang, menurut perkiraanku, dan dilengkapi berbagai fasilitas termasuk hiburan (Lumayan, nonton terus selama perjalanan, jadi gak bosen).

Perjalanan Jakarta - Singapura memakan waktu sekitar satu setengah jam, dan disana kami transit sekitar setengah jam. Saat ini sudah tanggal 18 Juli lho,,,,,

Akhirnya aku menginjakkan kaki di luar negeri!! Tapi pernyataan itu langsung kuralat, karena aku hanya menginjakkan kaki di airportnya ^^. Dan perjalanan pun kembali dilanjutkan : Singapura - Dubai. Sekitar 8 jam kurang lebih, dan untuk itu kami menunaikan sholat subuh di pesawat sambil duduk. Sayang, pesawat sebesar itu, milik maskapai muslim pula, tapi tetap saja tidak menyediakan fasilitas mushola… Satu catatan yang membuat maskapai tersebut memiliki nilai minus, menurutku. Anyway, selain itu, selebihnya kuanggap baik. Makanan yang terjamin halal, fasilitas hiburan (TV, film, radio, dll) yang lengkap, beserta fasilitas toilet yang sangat memadai membuat nyaman, meskipun kami di kelas ekonomi.

And finally, kami tiba di Dubai (ibukotanya Emirat Arab) jam 06.30 pagi waktu setempat, atau 09.30 WIB. Kami transit lama sekali, soalnya pesawatnya baru berangkat lagi jam 14.30. Tetapi, karena gak punya visa negara ini, ya sekali lagi kami hanya menginjakkan kaki di airportnya…. Tapi lumayan kok, ngeliat2 airport sini gak bikin bosen, karena banyak yang bisa diliat si ;) Toko2nya banyak, tapi karena belum dikasi uang saku, gak bisa beli oleh2 disini deh…. Banyak juga internet gratis yang bisa dipake lho… Tapi siangnya, Pak Nur langsung ngasi uang saku buat kami, hehehe…. Lumayan gede untuk ukuran kami,,, tapi tetep saja kami memutuskan tidak membeli oleh2 disini, karena selain mahal, Insya Allah kami memiliki kesempatan saat kembali dari Ukraina, jadi sekarang mending konsen ke lombanya dulu aja…. Setuju pak! Oh iya, sambil nunggu, sempet juga makan di McD sini. Yang pasti beda sama McD Indonesia tuh, disini gak ada nasi sama sekali! Ya udah deh pesen burgernya sini… Ternyata burger di Emirat ukurannya lebih dan lebih besar daripada ukuran burger di Indonesia. Empat orang dari kami berenam (4 mahasiswa + 2 pendamping) Tidak mampu langsung menghabiskannya, jadi dibungkus gitu…. Dan seporsinya tuh kalo dirupiahkan kira2 Rp 45000,-… Mahal pisan bung!!

Oh,, yang menarik lagi, kan di sana ada mushola juga (Ya iya, negara Arab gitu, mayoritas muslim), tapi ternyata orang sana tuh kalo wudhu sambil duduk (Jadi ada kaya tempat duduk di depan kerannya). Wah enak juga kupikir…. Tapi pas kucoba, ternyata hasilnya, celanaku basah kuyup, karena kena rembesan air dari tangan…. Wah berarti lebih pintar orang Indonesia dong yang sudah memperhatikan dan memperhitungkan hal ini, jadi kalo wudhu, berdiri aja ^^…. tuh kan keren Indonesia! Gimana gak bangga jadi orang Indonesia, hehehhe….

Gak lama setelah sholat (Sholatnya orang sana kayaknya sama aja kayak orang Indonesia), akhirnya peswat kami berangkat pula. Menuju Istambul, kota yang pernah menjadi pusat kejayaan Islam pada zaman Ottoman dahulu…….

(To be continued)

Masih ada langit yang harus ditembus

July 1st, 2006 by mfrasyid1

26 Juni, pukul 20.39 malam.
Bapak Ahmad Mukhlis, pembina tim olimpiade matematika Indonesia tingkat sma dan mahasiswa berkata, "… dan orang keempat, sekaligus yang terakhir, yang berangkat mewakili Indonesia dalam International Mathematics Competition 2006 di Ukraina adalah… Muhamad Fajrin Rasyid".

Alhamdulillah.. kebahagiaan tiada tara meliputiku saat itu. Suatu anugerah yang teramat luar biasa yang sangat kusyukuri. Mewakili bangsa di ajang tingkat dunia. Hal ini sudah kucita-citakan sejak lama, bertahun-tahun lalu, tepatnya saat masih SMA dulu. Saat itu, Indonesia mengirim 6 orang siswa SMA terbaiknya dalam bidang matematika ke olimpiade matematika internasional di Yunani, dan aku berada pada posisi paling menyakitkan, yaitu posisi ketujuh. Ketika itu pula, Alhamdulillah aku bisa mensyukurinya, tapi dalam hatiku, tetap tersimpan perasaan, bahwa suatu saat nanti, aku harus berhasil. Dan tekad itu alhamdulillah, Insya Allah akan terlaksana beberapa minggu lagi. International Math Competition ke 2006 akan diadakan di Odessa University, Ukraine, tgl 20-27 Juli, dan Indonesia mengirimkan 4 orang, yaitu Nanang Susyanto (UGM), Rangga Ganzar (ITB), Prastudy Mungkas (UI), dan aku.

Namun… segera aku teringat apa yang Pak Mukhlis pernah katakan. Jangan gantungkan cita-cita terlalu rendah. Apabila Anda hanya ingin lolos, mewakili Indonesia, maka Anda bisa saja memperolehnya. Tapi setelah itu, apa yang akan Anda lakukan? Masih banyak orang-orang hebat dari negara lain yang lebih hebat dari Indonesia. Singkatnya, masih ada langit yang harus ditembus. Jika Anda merasa puas hanya karena menembus satu langit, maka Anda akan tergilas. Ya, aku tidak boleh terlalu berbangga diri. Ini ajang tingkat dunia bung! Saat dimana aku tidak lagi hanya membawa nama kampusku apalagi jurusanku, tapi kini aku membawa nama bangsaku (thanks to Peppi ^^). 220 juta orang yang ada di belakangku. Apakah aku bisa hanya sekadar berlaga di sana, dan pulang tanpa membawa apa-apa? Tidak, aku tidak bisa seperti itu.

Karena itu izinkanlah Ya Allah, aku untuk menembus langit ini. Langit yang berisi jago2 matematika handal dari seluruh dunia. Dan kepada semua rekan, keluarga, dan yang membaca postingan ini, selalu kuharapkan doa dari rekan2 semua, agar aku bisa, setidaknya membanggakan kalian. Semoga.

Terima kasih, guru kelas-0 ku

April 24th, 2006 by mfrasyid1

Ada yang berbeda pagi ini. Banyak sekali. Sebut dua di antaranya sebagai berikut. Pertama, untuk kedua kalinya aku begadang di rumah teman dalam rangka menyelesaikan tugas. Dan yang kedua (sekaligus yang paling penting), sebagai konsekuensi dari sebab pertama tadi, aku mengikuti kuliah pagi ini dengan ngantuk-ngantukan (ya iya, sebab paling cuma tidur 1-2 jam sehari sebelumnya). Dan karenanya, dosen mata kuliah pagi ini menegur saya. "Sudah?" kata beliau. Pelan namun tegas, seperti yang beliau tampakkan pada kami selama ini. Aku langsung tersentak. Bukan karena aku ditegur, melainkan karena beliau menegur dengan sangat ramah. Ramah bagaikan induk burung yang membagikan makanan kepada anak-anaknya di sangkarnya. Padahal, 3 minggu sebelumnya, temanku yang bernasib sama denganku kena marah yang sangat besar dari beliau. Temanku tadi langsung diperintahkan untuk cuci muka dan jangan kembali sebelum kantuknya hilang.

Kontan aku bertanya-tanya, ada apa gerangan? Dan kemudian aku pun teringat. Ya, ini adalah minggu terakhir beliau mengajar mata kuliah yang kuikuti sekarang. Dan besar kemungkinan, ini sekaligus menjadi minggu terakhir aku diajar beliau dalam kampus ini. Dan bisa saja, ini terakhir kalinya aku berinteraksi dengan beliau. Karena dalam salah satu ucapannya, beliau berkata, "Saya akan pensiun tidak lama lagi…"

Dan perasaan yang menimpaku ternyata adalah perasaan kehilangan. Kehilangan guru yang telah mengajarkan begitu banyak ilmu bagiku. Tidak hanya ilmu kuliah, namun ilmu kehidupan. Beliau adalah salah seorang dosen paling kompeten dan paling hebat yang pernah kutemui semenjak aku menjadi mahasiswa. Dan kuyakin ratusan bahkan ribuan temanku yang pernah diajar beliau berpendapat sama.

Guruku, sangat banyak hal yang kuperoleh darimu. Andaikan benar bahwa engkau akan pergi, kuucapkan selamat jalan dan terima kasih tiada terkira. Kan kuingat semua pesanmu dan jasamu terhadapku. Dan tak lupa, bahwa aku pernah ditegur olehmu pada minggu terakhir aku diajar olehmu dalam perkuliahan. Terima kasih, guru kelas-0 ku.

Dominasikah aku ?

April 16th, 2006 by mfrasyid1

Kurang dari sebulan setelah aku menjalani hari pertamaku
sebagai mahasiswa informatika ITB 2004 (lupa tepatnya tanggal berapa ^^), aku
dipercaya teman-teman seangkatanku untuk menjadi pemimpin mereka, istilahnya
ketua angkatan. Bukan kapasitasku untuk menilai apakah aku sudah menjalankan
amanahku dengan baik, namun sampai saat ini, kurang lebih satu setengah tahun
sejak hari itu, aku masih dipercaya sebagai ketua angkatan mereka.

 

Salah satu tugas besarku sebagai ketua angkatan adalah
memimpin teman-temanku dalam menjalani proses kaderisasi awal dari Himpunan
Mahasiswa Informatika (HMIF), yaitu organisasi tempat kami (mahasiswa
Informatika ITB) bernaung. Lagi-lagi, bukan kapasitasku untuk menilai apakah
aku sudah menjalankan tugasku dengan baik atau belum, namun satu yang kusyukuri
adalah, alhamdulillah semua rekanku yang menjadi peserta kaderisasi tersebut,
yang dikenal dengan istilah Penerimaan Anggota Biasa (PAB) HMIF 2004, lolos
100% menjadi anggota biasa.

 

Bukan hal yang mudah dalam menjalankan amanahku saat itu,
dan juga saat ini. Dalam menjalani proses PAB, sempat terjadi beberapa kali
perselisihan antara kami dengan panitia. Sempat juga terjadi perselisihan
antara aku dengan panitia. Salah satu yang kuingat adalah, bahwa aku terlalu banyak
berbicara (interupsi, red ^^). Bahkan aku ingat dalam beberapa kali pertemuan,
aku dilarang untuk berbicara. Jadi, jika aku mengacungkan tangan pertanda ingin
berbicara, sang danlap sebagai wakil panitia langsung mengatakan “skip”,
pertanda bahwa interupsiku diacuhkan.

 

Tidak lama setelah itu, kami menjadi anggota biasa HMIF, dan
kami dapat berkontribusi lebih lanjut di dalamnya. Namun, salah satunya karena
teringat pesan panitia PAB, aku memutuskan untuk tidak terlalu terlibat jauh,
tidak menjadi orang penting di kegiatan-kegiatan HMIF. Alasan lain adalah aku
mencoba untuk berkontribusi di luar HMIF, salah satunya di Kabinet KM ITB. Dan
memang seingatku, dalam kepanitiaan di HMIF, aku hanya menjadi anggota satu seksi
saja, yang tugasnya membantu-membantu saja. Kecuali dalam kegiatan yang
dibawahi oleh divisi internal, karena memang orangnya sedikit jadi mau tidak
mau kebagian jadi koordinator/PJ juga. Kemudian, jabatan yang menurutku cukup
bergensi mungkin hanya anggota tim konseptor PPAB. Itu saja. Karena memang,
seperti kujelaskan sebelumnya, banyak kok orang yang hebat di IF 2004. Ada
Iqbal, Oliph, Ade, Vicky, Manda, Ibi, Sila, Fitri, dan buanyak lagi. Aku sudah
cukup lah di PAB kemarin saja…

 

Kemudian… setahun berlalu… keputusanku sekarang masih sama,
aku tidak ingin berkontribusi terlalu dominan di dalam HMIF. Oleh karenanya,
aku mengambil posisi sebagai pengawas, yaitu DPP. Eh, tidak disangka, temen2
DPP menginginkanku sebagai koordinator. Karena ini amanah dan kepercayaan, mau
tidak mau, akhirnya saya ambil amanah tersebut. Dan disinilah akhirnya, apa
yang kurasakan selama ini terbukti bahwa setidaknya bukan hanya perasaan saja.
Yaitu bahwa ada gosip kalau ada pihak yang tidak menyukaiku karena aku dianggap
terlalu mendominasi HMIF. Namanya juga gosip, pasti belum tentu benar. Tapi,
namanya juga gosip, orang yang terkena gosip pasti kepikiranlah. Dan benar, aku
kepikiran. Wah, rupanya ada yang tetap menganggap aku mendominasi HMIF ya?
Rasa-rasanya aku tidak sebegitunya? Atau apakah selama ini aku mendominasi
HMIF? Dominasi seperti apa?

 

Kata gosip tersebut, sebabnya aku itu ketua angkatan yang
dari dulu aktif, ternyata sekarang jadi koordinator DPP. Kenapa tidak memberi
jabatan itu ke orang lain? Well andaikan gosip itu benar, jawabanku hanya ini :
Aku sebagai ketua angkatan dan aku sebagai koordinator DPP kasusnya sama, yaitu
aku dipercaya oleh anggota2nya. Itu sudah cukup bagiku untuk menjalankan kedua
amanah tersebut. Jadi, sekali lagi andaikan gosip tersebut benar, maaf, saya
tetap menjadi ketua angkatan IF 2004 dan tetap menjadi koordinator DPP, selama
anggota di dalamnya mempercayai saya. Meskipun konsekuensinya adalah aku
dianggap mendominasi.

 

Pertanyaanku terakhir…… jika benar aku mendominasi? Jika
ya, mengapa dan apa alasannya? Dan yang paling penting.. itu salah?

TIdak pernah gagal juga masalah…

April 12th, 2006 by mfrasyid1

Pernah baca buku Chicken Soup, Chocolate, dan lain-lain yang menceritakan kisah hidup yang menggugah? Pasti pernah lah ya… saya juga pernah membaca buku-buku tersebut, mengambil pelajaran darinya, dan berusaha untuk hidup untuk lebih baik dengannya. Sering juga membaca biografi orang terkenal untuk sekali lagi mendapat pelajaran hidup darinya. Memang darinya, aku selalu ingat bahwa, tidak penting sedalam apapun kita jatuh, yang penting adalah seberapa tinggi usaha kita untuk bangkit dari kegagalan…. Contohnya tuh, pasti tau kan tentang Thomas Alfa Edison yang gagal ribuan kali sebelum nemuin bola lampu? Pasti tau kan tentang presiden AS (lupa yang mana) yang harus jadi tukang semir sepatu dulu di waktu mudanya? Dan banyak lagi kisah pembelajaran tentang orang-orang hebat yang bisa bangkit dari kegagalannya, menjadi seorang luar biasa yang dikenang banyak orang.

Pertanyaanku sekarang….. lalu bagaimana kalau aku adalah orang yang tidak pernah gagal? Setidaknya, seingatku aku tidak pernah menemui kegagalan yang benar-benar "menghancurkan"ku. Kegagalanku yang kuinget tuh….

1) Gagal dapet beasiswa masuk NTU, "hanya" diterima saja tanpa beasiswa

2) Gagal masuk tingkat dunia waktu olimpiade matematika SMA, "hanya" sampai tingkat Asia Pasifik

3) Gagal jadi peringkat pertama lulusan terbaik pas SMP, "hanya" terbaik ketiga

4) Gagal jadi siswa teladan se-Jawa Tengah, "hanya" terbaik kedua
dan kegagalan-kegagalan lain, yang menurutku malah patut disyukuri karena tidak banyak orang yang bisa mencapai hal tersebut.

Ini suatu hal yang baik? Tidak. Justru menjadi masalah yang amat serius, setidaknya menurutku. Karena aku tidak pernah benar-benar belajar bangkit… setelah aku terjatuh ke dalam kegagalan. Karena hanya dengan mempelajari pengalaman orang, aku tidak benar-benar memperoleh pengalaman tersebut..

Karenanya aku sungguh berharap, orang yang memiliki masalah serupa atau mirip denganku, bisa memberikan jalan keluar… KIra-kira apa yang sebaiknya kulakukan saat ini, dan saat aku benar-benar terjatuh…

Akibat pemendaman

February 11th, 2006 by mfrasyid1

Apa yang terjadi jika sesuatu dipendam sekian lama? Pastilah menjadi suatu hal yang kurang baik. Tumpukan sampah di TPA menjadi busuk dan menyebarkan sumber penyakit . Tumpukan zat karsinogen dalam tubuh menyebabkan penyakit kanker. Tumpukan sembako dalam gudang produksi membuat harga barang menjadi tinggi. Karenanya, bahkan Allah sendiri tidak menyukai semua yang ditimbun.

Itulah kiranya, aku juga sangat menyayangkan orang-orang yang selalu memendam masalahnya. Aku sendiri, selalu berusaha untuk mengungkapkan apa yang menjadi masalahku. Jika tidak  mempunyai sahabat untuk berbagi, maka hal paling minimal adalah menuliskan di dalam buku harian. Karena dengan men-share masalah yang kita miliki, kita telah menyelesaikan 50% dari masalah itu –> Ini  kata-katanya penulis buku yang namanya  lupa ^^

Anyway, kini, aku menyaksikan sendiri seorang temanku, sesama mahasiswa, mengalami apa yang kusebut sakit pikiran. Sebuah ketimpangan yang terjadi karena memiliki masalah yang sedemikian besar dan bertumpuk-tumpuk sejak lama. Saat terjadi stimulus terhadap pikiran atau otaknya, maka terjadilah masalah itu. Stimulus yang berupa pembuka pola pikir, penyadaran, dan lain sebagainya. Seperti suatu tempat penampungan sampah yang akhirnya tidak kuat lagi menampung semua isinya hingga tumpah berceceran kemana-mana.

Bingung rasanya menghadapinya. Aku tidak tahu seberapa berat beban yang menimpanya, tapi aku pernah dengar sebuah ungkapan bijak yang intinya mengatakan bahwa, kau takkan pernah tahu betapa berat beban yang dipikul orang lain karena kau tak pernah menjadi dirinya. Hal yang sama berlaku pula terhadap diri kita sendiri. Artinya, orang lain takkan pernah tahu seberapa berat beban yang menimpa kita. Lalu bagaimana kita mengatasinya, atau setidaknya menghadapinya? Yang kujadikan landasan adalah, kenyataan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal. Dengan alasan itu pula kita adalah makhluk yang lebih baik jika kita saling menolong dan saling mengingatkan. Tindakan yang mulia, namun takkan dapat dilakukan tanpa kesadaran tadi, bahwa kita saling membutuhkan.

Kasus yang menimpa temanku ini bukan yang pertama kali kutemui. Sudah beberapa kali aku menjumpai orang dengan masalah ini. Aku tidak punya solusi langsung layaknya seorang psikolog/ahli kejiwaan yang sangat memahami psikologi manusia, dan aku bukan pula seorang kyai/ahli agama yang sangat memahami sisi spiritual manusia. Namun aku setidaknya memiliki hubungan dengan mereka. Sebagai seorang teman yang siap membantu. Karena menurutku, mereka butuh - apalagi saat ini - pertolongan. Kelakuannya yang mungkin bagi sebagian besar bahkan semua orang dianggap aneh, bisa jadi sangat membahayakannya. Jika terjadi apa-apa dengan mereka dan temanku tadi, aku tak tahu bagaimana jadinya. Karena aku tahu bahwa ada seposisi langkah yang kami lalui bersama, yang justru sedikit banyak menyebabkan apa yang dialami dirinya saat ini. Seposisi langkah yang baik untukku, namun ternyata berakibat sangat fatal untuknya. Karenanyalah, aku merasa aku memiliki sebagian peran dalam bertanggungjawab terhadap apa yang menimpanya.

Akhirnya temanku, dan semua yang membaca ini, kusarankan satu hal saja, sebelum semua terlambat. Selalu curahkan dan tumpahkanlah seluruh isi hati dan pikiranmu, terutama yang mengganjal dan menjadi masalah bagimu. Tuangkan meskipun itu tampak sepele dan kurang berarti. Karena seperti kubilang, segala yang terpendam akan berakibat buruk. Cegahlah, sebelum kamu mendapati suatu hal yang tidak kauinginkan.

Masih idealisme.. yang menjadi beban

February 10th, 2006 by mfrasyid1

Selang beberapa menit yang lalu, aku menerima email dari adik kelasku (perempuan yang masih duduk di kelas 3 SMA sekarang), yang bilang kalo salah satu temenku yang dulu seangkatan sama aku di SMA, terkena depresi dan malah jadi ngegangguin dia sekarang. Kembali teringat aku tentang idealisme itu. Idealisme mahasiswa yang sangat luar biasa, begitu luar biasanya sehingga malah menjadi beban bagi sebagian mahasiswa.

Sedih dan prihatin. Itulah dua hal yang menimpaku. Temenku yang katanya terkena depresi ini seingatku adalah orang yang biasa-biasa saja dulu. Ceria, suka bercanda dan tertawa, melewati segenap waktu sekolah bersama. Namun ternyata dunia kampus memang sungguh berat. Sangat berat jika dibandingkan sama SMA dulu. Yah, misal aja pola hidup yang jauh berbeda (kayak aku sekarang, kuliah jam 7-9, abis itu kuliah lagi jam 1-3 sore, gimana gak sebel? Kenapa gak sekalian aja, biar siangnya bisa istirahat / maen, ato paginya gak usah ada, biar bisa bangun siang? ^^). Belum lagi ujian-ujiannya, tugas dan praktikumnya, kegiatan organisasi, dan segala masalah laen, yang emang bisa bikin stres kalo kita gak kuat.

Nah segala persoalan ini, ternyata ditambah dengan apa yang kubilang kemaren dan tadi tentang idealisme (ato ideologi? Gak tau yang mana yang bener, pokoknya itulah ^^). Misal aja, banyak pola pikir yang akhirnya membuat kita bingung, apa sih tujuan kita hidup? Apa sih tujuan kita kuliah? Apa buat nyari kerja terus dapet duit banyak terus udah aja gitu? Mau ngapain ikutan organisasi kalo tujuannya gak jelas? Dan seabreg pertanyaan lain yang, kembali memperberat beban kita sebagai mahasiswa.

Mahasiswa juga manusia. Itu sih intinya yang mau kubilang. Segenap harapan memang tergantung pada pundak kami. Beban sekian ratus juta manusia ditimpakan kepada kami. Siapa yang tidak pusing menghadapinya? Berilah kami kesempatan,, kesempatan untuk berpikir,, kesempatan untuk merenung,, apa yang bisa kami lakukan untuk diri kami sendiri dan untuk masyarakat. Saya bilang demikian karena mustahil mengurus masayarakat kalo mengurus diri sendiri pun tak mampu. Memang, kalo dalam istilah keinformatikaan tuh, manusia adalah makhluk yang bisa berpikir dan bertindak paralel. Tapi manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Apalagi kami hanyalah seorang mahasiswa. Apalagi jika ternyata kami sendiri dalam menghadapi ini semua. Keluargaku, teman-temanku sesama mahasiswa, bapak ibu dosen, bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di pemerintahan dan segenap birokrasinya, serta seluruh masyarakat, bantulah kami, bukan malah menekan kami. Hanya itu harapan saya dalam mengatasi permasalahan bangsa ini. Semoga dengan demikian, apa yang kita cita-citakan bersama, yaitu kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia, dapat tercapai.

idealisme dan realita

February 9th, 2006 by mfrasyid1

Wah… setelah sekian lama, baru sekarang yah aku nulis di blog ini? Hehe.. maapin ye blog-ku (Kok aneh? ^^)..

Well, sekarang nih mau cerita nih, tentang apa yang terjadi dari beberapa hari lalu ampe kemaren. Kan ceritanya aku ikut acara yang namanya Diklat Aktivis Terpusat Keluarga Mahasiswa ITB 2006 (wuih,, denger namanya aja udah rada merinding,, jangan-jangan pesertanya orang-orang jago ngomong semua! Ngapain dong nanti saya disana?). Well, aku beraniin untuk ikut, karena aku dipercaya untuk jadi wakil himpunanku (HMIF) di acara ini, bareng temenku si Ivan K. Dan benar saja ternyata. Materi yang disampein di acara diklat ini (namanya juga diklat, ya pasti ada transfer materi di dalemnya) tuh superberat untuk ukuran mahasiswa secara umum. Bayangin aja, kami dijejalin ama berbagai realitas tentang ancaman globalisasi ideologi dan universalisasi budaya, politik neo liberalisme termasuk ekonomi Berkeley, utang luar negeri yang wajib ditanggung oleh semua warga yang baru lunas kalo tiap warga nyumbang 8 juta rupiah ke pemerintah (wow!), dan seabrek masalah lain. Dan setelah itu, kami dijejalin juga tentang materi idealisme, ideologi, dan terapannya dalam kemahasiswaan.

Dan DAT pun berlalu. Membawa segenap perubahan ideologi (ato idealisme?) dalam diriku. Rasanya banyak, banyak sekali hal baru yang ingin dan harus kulakukan. Rasanya aku gak pernah lagi benar-benar tertawa dan merasa nyaman, karena setiap detik aku pasti dibayang-bayangin ama kenyataan negatif tentang bangsa ini, tentang masyarakat Indonesia, juga tentang kampus ITB. Suatu hal yang mungkin sedikit menyedihkanku, mengingat aku ikut DAT dengan tujuan utama untuk belajar.

Apa yang kualami? Well, terus Teh Nova, deputi protek KM ITB (yah seniorku lah di kabinet gampangnya) ngasi suatu penjelasan, bahwa ini adalah suatu fenomena umum yang melanda mahasiswa ITB, yang kecewa dan merasa ada yang salah dengan kondisi yang ada baik di kampus maupun di bangsa ini, dan ketika diberi stimulus dari luar, apalagi yang sangat hebat (DAT jauh lebih dari cukup dengan itu), mereka yang notabene memiliki intelektualitas tinggi akan menjadi semacam terdoktrin dengan idealisme yang luar biasa, yang harusnya sangat mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan kampus. Namun akhirnya,, mahasiswa itu semacam goyang karena idealisme yang luar biasa tadi ternyata jauh berbenturan dengan realitas yang juga luar biasa, namun disini luar biasa buruk. Makanya, banyak mahasiswa justru menjadi frustasi, dan akhirnya malah tidak jadi bisa berbuat apa-apa dengan idealisme luar biasa tadi…

Waw,, kenyataan yang sedikit membuatku merinding.. Jadi kalo kusimpulin tuh, aku nih pinter (hehe, narsis^^), terus dapet materi tentang ideologi yang baik sehingga kumasukin dalem pikiran, namun ketika ideologi itu berbenturan ama berbagai kenyataan, jadilah aku murung dst… Wah, makanya nih.. tugasku dari sekarang untuk belajar berealistis. Tidak perlu berteriak-teriak di tengah kampus untuk menuntut perubahan,, tapi aku mungkin bisa berbuat lebih baik dengan bergerak bersama teman-temanku, memulai dari hal-hal yang kecil semacam jujur dalam perkuliahan, dan sebagainya. Segala yang besar dimulai dari yang kecil kan? Semoga Allah meridhoi usahaku.